" WARNARANO "

Ing Ngarsa Sung Tuladha

ANALISIS PUISI


Analisis Puisi
Oleh: Zen Firdaus Arizal
Puspa Mega

Karya: Sanoesi Pane
S U N G A I
Waktu masih muda dewasa,
            Nyala gembira masih dikandung,
Sungai mengalir gagah perkasa,
            Gegap gempita di celah gunung.

Sampai di bawah tanah datar
            Ia berjalan lambat-lambat
Telah lebar sekarang dasar,
            Megah hati terhambat-hambat.

Makin lama aliran langlai,
            Bertambah lembut jadi suara,
            Sehingga tenang dalam muara
Gagah perkasa diganti damai.
            Ke dalam laut masuk sekarang,
Sebagai burung masuk ke sarang.

            Dari segi tipogarfi, bentuk puisi di atas kurang menggambarkan bentuk bait. Keunikan dari puisi tersebut, pada baris kedua langsung menjorok ke dalam. Sulit untuk diketahui apa maksud dari penjorokan pada bait kedua ini. Terdapatnya tanda baca koma pada larik satu sampai dengan tiga, mengindikasikan bahwa larik satu sampai dengan empat merukan satu kalimat yang utuh dan padu atau saling berhubungan. Jika diamati, pada puisi di atas terdapat empat tanda titik. Mungkin juga puisi di atas sebenarnya merupakan kalimat-kalimat yang dipenggal menjadi bait dan akhirnya dijadikan sebuah puisi.
            Puisi di atas memang sudah sedikit memenuhi syarat estetika, yaitu dengan hadirnya rima yang teratur pada bait pertama. Pembentukan musikalitas tercermin pada bunyi akhir sa pada larik pertama dan bunyi akhir sa juga pada larik ke-tiga. Begitu juga pada larik ke-dua dan larik ke-empat sama-sama berimakan akhir larik ung. Rima juga ditemukan pada nait kedua. Pada larik kesatu dan ketiga bait kedua berima sama. Begitu pula larik kedua dan keempat juga sama.
            Dari segi para frase, puisi tersebut menceritakan tentang kehidupan seseorang dari awal hingga akhir. Kehidupan tersebut digambarkan lewat aliran sungai dari hulu ke hilir dan berakhir di laut. Dinyatakan pada bait pertama, bahwa apabila hidup masih muda diibaratkan dengan aliran sugnai yang gagah perkasa. Memang kita dapat melihat bahwa kehidupan anak muda dipenuhi dengan sifat merasa menang sendiri dan merasa yang paling gagah. Itulah gambaran anak muda yang dinyatakan sudah dewasa. Di dalam puisi tidak hanya dikatakan muda saja, tetapi juga ada kata dewasa, yang menandakan seseorang tersebut sudah dapat berpikir dan dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Hal tersebut dapat dilihat pada penggalan di bawah ini.
Waktu masih muda dewasa,
            Nyala gembira masih dikandung,
Sungai mengalir gagah perkasa,
            Gegap gempita di celah gunung.

Namun pada bait kedua digambarkan hal yang bertolak belakang dari apa yang dijelaskan pada bait pertama. Pada larik pertama bait kedua dikatakan bahwa sampai di bawah tanah datar yang dapat diartikan bila manusia sudah mati. Mati berada di bawah tanah atau dikubur. Dan pada larik kedua menjelaskan perihal-perihal yang akan dialami sebelum berada di bawah tanah datar. Di katakana bahwa ia berjalan lambat-lambat. Hal itu berarti bahwa manusia menjelang akhir hayatnya akan semakin melambat. Atau menjalani kehidupan dengan lambat. Banyak orang-orang tua yang penyakitan dan tak ujung mati. Ia ingin segera cepat mati. Inilah yang mungkin dimaksud dengan lambat-lambat. Kemudian pada larik selanjutnya disebutkan telah lebar sekarang dasar maksudnya telah terbuka lebar kehidupan selanjutnya di alam yang kekal. Megah hati terhambat-hambat. Dapat diartikan bahwa dalam kehidupan kesombongan yang telah ditanam sejak masa keemasannya kini telah ada pada jurang kehancuran. 
Sampai di bawah tanah datar
            Ia berjalan lambat-lambat
Telah lebar sekarang dasar,
            Megah hati terhambat-hambat.

Dilihat dari pemilihan diksi. Diksi yang tersaji bisa dikataka begitu lugas. Kata yang ada di dalamnya dapat dengan mudah dipahami.  Seperti pada bait kelima. Kata-kata yang hadir bila diartikan secara morfemis dapat dipahami dengan mudah. Namun disisi lain apabila kata-kata tersebut diartikan dalam bentuk frasa, maka akan dujumpai kata-kata yang sedikit sulit dipahami. Seperti aliran langlai, bertambah lembut jadi muara. Kata-kata atau larik yang tersaji pada bait ketiga ini mengandung pemaknaan yang tersirat. Semua menandakan sebuah akhir atau sebuah masa peredam.  Kata-kata kunci yang menadakan sebuah perubahan tersebut antara lain langlai, lembut, tenang, dan damai. Kutipannya sebagai berikut ini:
Makin lama aliran langlai,
            Bertambah lembut jadi suara,
            Sehingga tenang dalam muara
Gagah perkasa diganti damai.
            Ke dalam laut masuk sekarang,
Sebagai burung masuk ke sarang.

DI TEPI DANAU

Aku berdiri hampir malam
Di tepi danau permata nilam
Menunggu timbul pantun nalam
Terkenang aku waktu silam.

Hamba teringat Tanah Mulia,
Jauh di sana di seberang lautan,
Memandang awan indung mutia,
Mendengar  jengkerik bersaut-sautan.

Ombak berderai, naik melandasi,
Bernyanyi lembut, lemah dan langlai,
Rasa menambah rindu di dalam.

Keluh dan kesahku tertahan-tahan,
Diriba angin perlahan-lahan,
Dibawa melayang ke dalam malam.

Puisi di atas menceritakan kerinduan pengarang pada sebuah tempat. Kerinduan akan masa silam yang pernah dijalani oleh pengarang. Kerinduan tersebut semakin tak tertahan. Pengarang hanya bisa melepas kerinduannya dengan berdiri di tepi sebuah danau. Danau tersebut membawa suasana yang mirip dengan tempat yang ia rindukan. Pengarang berharap, suasana danau tersebut dapat mengobati kerinduannya.
            Kerinduan yang dialami pengarang sebenarnya juga terjadi pada beberapa orang. Hal yang menarik adalah pengarang dapat mengalihkan kerinduannya dengan cara mencari tempat yang sama seperti tempat yang ia rindukan. Hal tersebut dapat menjadi sebuah solusi sebagai pengobat kerinduan.
            Dari segi rima puisi tersebut sangat menarik. Terlihat pada bait pertama sebagai berikut:
Aku berdiri hampir malam
Di tepi danau permata nilam
Menunggu timbul pantun malam
Terkenang aku waktu silam
            Disetiap akhir sajak pada bait pertama berima sama yaitu lam. Hal ini menunjukan kemahiran pengarang dalam menentukan diksi. Dengan keindahan rimanya, puisi tersebut semakin enak untuk dibaca. Serta pelafalan pada bait pertama tersebut semakin mudah untuk diucapkan.
            Keindahan rima dalam puisi tersebut tidak hanya pada bait pertama. Pada bait-bait selanjutnya juga terdapat rima yang teratur. Semisal pada bait kedua bersajak ab ab. Dan juga pada bait ke empat dan kelima bersajak aab aab.
            Dari sudut penentuan diksi, terdapat beberapa kata indah dalam larik-larik puisi tersebut. Antara lain:
Permata nilam
Pantun nalam
Tanah mulia
indung mutia
            Agak sulit untuk mengartikan kata-kata tersebut sejalan dengan maksud puisi. Sedikit diketahui bahwa kata-kata pilihan tersebut dapat menimbulkan efek rasa, bayangan, memperdalam makna, serta menimbulkan efek khusus. Semisal larik yang berbunyi “Di tepi danau permata nilam”. Kata permata nilam menambah kesan keindahan yang melekat pada danau. Berbeda jika kata permata nilam dihilangkan, maka danau tersebut akan terlihat biasa layaknya danau-danau yang lain. Larik yang lain semisal, pada bait kedua larik kedua yang berbunyi “Jauh di sana di seberang lautan”. Kata di seberang lautan menimbulkan efek rasa sebuah tempat yang teramat jauh. Tempat yang dipisah oleh luas lautan. Dari hal tersebut dapat dilihat kehebatan puisi dengan kata-kata yang berdaya.
M I M P I
Aku bermimpi mendapat cincin
Dari kekasih dalam rahasia,
Tandanya kami akan pengantin,
Menjadi satu dalam bahagia.

Tangan pemberi yang amat halus,
Kukecup cium berkali-kali.
Kalbu seakan menjadi angus
Dibakar nyala cinta berahi

Kekasih tersenyum, dengan perlahan
Melepaskan tangan dari genggaman.
Dengan mengawasi ia menghilang.

Baharu terbangun pagi hari,
Aku memandang kepada jari.
Ah, cincin tak ada lagi sekarang.

            Puisi di atas menceritakan sebuah kisah cinta yang dirasa sangat sementara oleh aku liris. Pengarang bermimpi bahwa ia mendapatka cincin. Hal itu menandakan aku liris akan menjadi pengantin. Namun keesokan harinya cincin tersebut sudah tidak ada. Digambarkan aku liris bahagia hanya sekejap malam.
Pertama, hal yang dapat diambil dari puisi ini adalah mengisahkan seseorang yang sudah berumah tangga namun tidak bertahan lama. Perceraianlah yang mengakhiri sebah pernikahan. Aku liris merasa terharu mengingat apa yang terjadi pada dirinya bahwa kekasihnya telah tiada.
Kedua, puisi tersebut dapat diartikan sebagai seorang yang menjadi korban dari khayalannya. Bila dicermati lebih mendalam, mungkin saja aku lirik memimpikan sesuatu yang sangat diidamkannya. Digambarkan sesuatu yang diidamkannya tersebut adalah sebuah perikan yang identik dengan kebahagiaan. Namun di akhir bait dijelaskan bahwa semua itu hanya mimpi belaka. Sebuah mimpi yang sulit untuk menjadi kenyataan. Sebuah keinginan yang sulit untuk menajdi kenyataan atau diwujudkan.
            Wujud kejadian dari puisi tersebut pada masa sekarang sangat marak sekali. Sebuah keluarga yang tak harmonis sering hadir dalam lingkungan kita. Perceraian sudah menjadi hal yang lazim dan umum. Sebuah keluarga sering mengambil jalan pintas jika sedang menghadapi sebuah permasalahan. Jalan pintas tersebut tak lain adalah perceraian. Begitu pula penggambaran pada bait ke-2 yang berisikan aku lirik dibakar nyala cinta birahi. Hal ini dapat kita temui pada kalangan remaja. Seringkali kali mereka melakukan seks bebas dan kemudian salah pihak tidak bertanggung jawab. Lari dari tanggung jawab sebagaimana digambarkan pada bait terakhir dengan perginnya kekasih tercinta. Pastilah sosok yang ditinggal tersebut merasa haru. Seperti pad bait terakhir puisi.
Baharu terbangun pagi hari,
Aku memandang kepada jari.
Ah, cincin tak ada lagi sekarang.
            Dari sisi tema puisi tersebut menceritakan sebuah harapan atau khayalan seorang tokoh aku yang mendambakan sesuatu. Di dalamnya juga tersaji kisah percintaan aku liris kepada kekasihnya. Atau mungkin dalam prespektif berbeda puisi tersebut bertemakan kemanusiaan yang menceritakan harapan atau cita-cita seorang manusia hingga cita-cita tersebut menjadi khayalan.



Kerikil Tajam yang Terhempas dan yang Putus
Karya: Chairil Anwar
Kawanku dan Aku

Kami jalan sama sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-padat

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti

Puisi di atas menceritakan tentang persahabatan dua orang. Persahabatan mereka sudah berjalan lama dan usialah yang dirasa akan memisahkan mereka. Larik-larik dalam puisi tersebut mengandung banyak makna. Dari segi bahasa, beberapa larik ada yang sulit untuk dipahami. Seperti pada larik kelima “Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan”, “Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-padat” dan “Dera mengelucak tenaga” .
Dari segi majas dan sarana retorika terdapat beberapa kata yang mengandung majas seperti: Darahku mengental pekat, kawanku hanya rangka saja, berkakuan kapal-kapal di pelabuhan. Darahku mengental pekat dapat diartikan sebagai ungkapan sebuah waktu kehidupan manusia yang sudah hampir selesai. Karena, jika darah seseorang sudah mengental pekat berarti menandakan sebuah kehidupan yang sudah tiada lagi. Mungkin juga larik tersebut menandakan sebuah semangat sebagai arti darah yang mengental pekat. Wujud sesungguhnya dari darah adalah encer walaupun sedikit kental. Namun dalam puisi tersebut dikatakan pekat. Hal tersebut juga dapat diartikan sebagai sebagai sesuatu yang sudah berada tidak layak lagi atau sesuatu yang seharusnya terbuang. Sebuah persahabatan yang atak mungkin  lagi terpelihara.
Kemudian larik  “dera mengelucak tenaga” mengindikasikan adanya kelelahan akibat perjalanan hidup yang teramat panjang. Disisi lain sebelum larik tersebut, terdapat larik, kawanku tinggal rangka saja. Menggambarkan sebuah keadaan hidup yang sudah tiada apa-apa. Kata “rangka saja” diakibatkan sebuah dera dan cobaan yang sangat menghabiskan tenaga.  Aku liris menggambarkan penderitaan temannya sebegitu parah. Hingga di hiperbolakan badannya tinggal rangka saja. Sebuah gambaran tentang miskinnya kesehatan atau malah teman aku liris sudah tidak mempunyai harta benda. Dilebih-lebihkan dia tinggal rangka saja, tiada selembar kulit pun yang menutupi tubuhnya.

Deru Campur Debu
Karaya: Chairil Anwar
SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
 menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekal tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Diksi
Pilihan kata dalam puisi ini terlihat biasa dan terkesan kata-kata yang digunakan dalam kesehariaannya. Tetapi arti katanya bukan arti yang sebenarnya. Walaupun dengan kata-kata yang biasa tapi Chairil memberikannya sebaagai kata-kata yang mengandung makna konotasi. Seperti kata gudang, rumah tua pada cerita, tiang serta temali, mempercaya mau berpaut kata-kata ini bermakna sebuah kedukaan. Bagi penyair gudang dan rumah tua dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna seperti dirinya yang dianggap tiada berguna lagi. Kata ”mempercaya mau berpaut” itu sebenarnya juga berarti harapan Chairil akan kekasihnya. Pilihan kata seperti kelam dan muram juga memberi kesan pada makna kesedihan yang dirasakan. Kata menemu bujuk pangkal akanan juaga merupakan harapan penyair. Sedangkan kata tanah dan air yang tidur juga menyatakan suatu kebekuan.
Chairil mampu mengolah pilihan katanya sebaik mungkin walaupun dengan bahasa percakapan tapi mampu menghadirkan makna yang dalam. Hanya ada satu kata yang tidak biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu akanan.
Efoni dan Irama
Chairil bukanlah penyair yang selalu terikat pada peratturan sehingga kadang-kadang dia tak pernah memperhatikan bunyi yang ada dalam puisinya. Baginya menulis puisi itu adalah suatu kebebasan. Meskipun demikian dalam puisi ini Chairil tetap memperhatikan bunyi walau tidak terlihat secara mencolok.
Dalam puisi ini memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k,p,t,s seperti kali, cinta, di antara, tua, cerita, tiang serta temali, kapal, perahu, mempercaya, berpaut, mempercepat, kelam, kelepak, pangkal, akanan, kini, tanah, tidur, tiada, aku sendiri, semenanjung, pengap, masih, sekali, tiba,sekalian, selamat, pantai, keempat, penghabisan, terdekap, dan bisa. Kata-kata itu menimbulkan efek kakafoni, meskipun terdapat rima, aliterasi dan asonansi. Seperti rima aabbccddefef , aliterasi tidak-bergerak, pengap-harap serta asonansi ini-kal dan, pada-cerita.
Gabungan beberapa unsur bunyi yang terpola tersebut menimbulkan irama yang panjang, lembut dan rendah. Karena irama tersebut menggambarkan kasedihan yang ada pada puisi terbut. Karena irama sajak juga merupakan gambaran akan suasana puisi tersebut.
Bahasa Kiasan
Meskipun bahasa dalam puisi ini adalah bahasa percakapan sehari-hari tetapi semuanya adalah bahasa kias. Dalam puisi ini banyak berbagai bahasa kias yang dipakai penyair untuk memperdalam makna yang ada dalam puisinya.
....................................................
di antara gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
.........................................................
........Ada juga kelepak elang
............................................
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Dari kata-kata itu terlihat adanya metafora yang memperdalam rasa duka yang dirasakan. Ketidak berdayaan itu dibandingkan Chairil sebagai sebuah gudang, rumah tua, tiang, dsan temali yang tiada berguna. Harapannya kandas bagai kapal dan perahu yang tidak melaut karena mennghempaskan diri di pantai saja. Serta kebekuan hati bagai air dan tanah yang tidur dan tidak bergerak.
Selain itu juga terdapat personifikasi pada rumah tua pada cerita, ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang, dan kini tanah dan air tidur hilang ombak dan sedu penghabisan bisa terdekap. Dari kata-kata itu penyair menghidupkan rumah tua yang seakan mampu becerita, dan menghidupkan juga kelepak elang yang mampu menyinggung perasaan orang yang sedang muram. Hari pun dikatakan penyair seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik waktu itu. Dia juga berusaha menidurkan tanar dan air sehingga merasa dalamlah kebekuan hati seseorang yang digambarkan. Semuanya ini menyebabkan hanya sendu yang bisa ia peluk bukan orangnya.
Sinekdok terlihat pada kata tiang yang sebenarnya adalah rumah, kata kapal dan perahu yang berarti pelabuhan. Kalimat dan kini tanah dan air tidur hilang ombak juga merupakan ungkapan yang hiperbola karena melebih-lebihkan kedekuan hati sang gadis itu. Bahasa kiasan tersebut sebenarnya hanya ingin mengungkapkan makna yang lebih mendalam pada pembaca.
Citraan
Citraan yang ada dalam puisi adalah penglihatan ’imagery. Yang mengisyaratkan bahwa pelabuhan kecil itu merupakan tempat perpisahanya. Seolah-olah puisi ini membawa pembaca dengan inderanya untuk melihat suasana pelabuhan yang kecil dan seakan-akan mati. Dengan khayalan yang sudah tergambar Chairil mencoba lagi membawa pembaca lewat puisinya ke dunianya tersebut agar bisa merasahan kesedihan yang dia rasakan.

citraan penglihatan tersebut terlihat dari
diantara gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
Kalimat tersebut mengajak pembaca mendalami kesunyian yang ada dalam pelabuhan itu dengan melihat keadaan pelabuhan. Dan hal itu sesungguhnya gambaran dari kesunyian sang penyair juga.
Pemikiran dalam Sajak
sajak ini merupakan luapan hati penyair yang sedih setelah ditinggal kekasihnya Sri Ayati menikah dengan seorang perwira. Hal ini merupakan pukulan bagi Chairil karena kekasih yang sangat disayanginya harus menikah dengan orang lain.
Kesediahan ini mungkin dirasakan Chairil terlalu mendalam sehingga semua yang ada disekitarnya dirasakan sunyi , kareena larut dalam kesunyian hatinya. Sehingga kedukaan karena cinta tersebut dibuat penyair dengan sangat plastis. Sehingga seakan-akan semua harapan dan keinginan itu hanya malah membuatnya sakit. Karena harapan untuk menjalin cinta dengan Sri Ayati itu akhirnya kandas juga. Sehingga keseluruhan cerita ini merupakan luapan kesedihan penyair.
Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi dalam puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankolis karena sajaknya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil dalam memikirkan nasib yang benar-benar sudah tak bisa lagi dirubah. Tetapi emosi Chairil yang menguasai puisi ini menyebabkan sajaknya tidak terlalu terlihat sedih.

Tebaran Mega
Nikmat Hidup
Karya: S. Takdir Alisjahbana
Api menyala di dalam kalbu
Ganas membakar tiada beragak
Hangus badan rasa seluruh
Kepala penuh bersabung sunar

Malam mata tiada terpicang
Gelisah duduk sepanjang hari
Rasa dicambuk rasa didera
Juwa ngembara tiada sentosa

Ya Allah, ya Tuhanku
Biarlah api nyala di kalbu
Biarlah badan hangus tertunu

Api jangan engkau padamkan
Mata jangan engkau picakan
Jiwa jangan engkau lelapkan

Paraphrase
“Api menyala di dalam kalbu”  semangat hidup bagaikan nyala api yang berada di pangkal batin.
“Ganas membakar tiada beragak” ganas membakar tanpa berpikir
“Hangus badan rasa seluruh” semangat yang menghidupkan jiwa dan raga.
“Kepala penuh bersabung sunar” pikiran yang penuh dengan masalah.
“Malam mata tiada terpicang” dikala malam tetap terjaga.
“Gelisah duduk sepanjang hari” selalu berpikir untuk hari-hair esok.
“Rasa dicambuk rasa didera” kehidupan dengan cobaan yang sangat pahit.
“Juwa ngembara tiada sentosa” ingin jiwa mengembara bebas dari segala kesukaran.
“Ya Allah, ya Tuhanku”
“Biarlah api nyala di kalbu” biarlah semangat tetap ada di hati.
“Biarlah badan hangus tertunu” biarlah badan merasakan semuanya.
“Api jangan engkau padamkan” semangat jangan engkau hilangkan.
“Mata jangan engkau picakan” tetaplah memberi bimbingan.
“Jiwa jangan engkau lelapkan” jangan engkau mencabut nyawa.
            Puisi yang berjudul “nikmat hidup” karya S takdir tersebut mengungkapkan sebuah keinginan seseorang / permohonan seseorang kepada tuhannya untuk tetap diberi petunjuk. Kehidupan yang digambarkan serasa menyakitkan dan harus dijalani berhari-hari perlu adanya semangat yang besar untuk menjalaninya.
            Dalam puisi ini pengarang juga ingin meperlihatkan perasaannya dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan kegelisahan, masalah-masalah, serta keinginannya untuk dapat bebas dari semua ini. Pada puncaknya pengarang berserah diri kepada tuhan dengan berdoa.
Puisi yang berjudul Nikmat Hidup karya S. Takdir Alisyahbana, merupakan salah satu puisi yang dibukukan dalam kumpulan puisi terlaris oleh Mao Chin. Puisi ini memiliki keistimewaan tersendiri. Isinya menggambarkan ungkapan permohonan pengarangnya kepada tuhannya. Doa-doa yang ada pada sajak-sajak puisi tersebut mencerminkan ketidakberdayaan pengarang dalam menjalani kehidupan. Salah satunya sajaknya yang berbunyi “Rasa di cambuk rasa didera” dapat dipahami bahwa pengarang menganggap kehidupan di dunia ini bagaikan cambukan dan deraan yang begitu pahit. Kemudian pengarang juga menganggap kehidupan ini harus berjuang dan terus berusaha dan berpikir keras untuk hari-hari esok.
            Namun pengarang juga juga memiliki pemikiran lain terhadap kehidupan ini. Dalam salah satu sajaknya yang berbunyi “Jiwa ngembara tiada sentosa” yang dapat di pahami jiwa mengembara bebas dari segala kesukaran. Adakalanya pengarang ingin dirinya bebas dari segala yang membelenggunya. Dirinya ingin berpetualang mencari kehidupan yang lain. Kehidupan yang terhindar dari komunitas yang mencambuk dan menderanya.
            Namun pada akhirnya pengarang menyadari bahawa semua cobaan ini memang diciptakan untuk mengujinya. Dan ia patut dan harus menjalaninya. Dalam sajaknya pengarang berkata “Biarlah badan hangus merasakan semuanya”, Hal ini mengindikasikan bahawa pengarang pasrah dengan semua cobaan yang diturunkan oleh tuhannya. Disusul beberapa sajak yang menyatakan Doa. “Api jangan engkau padamkan”, “mata jangan engkau picakan”, jiwa jangan engkau lelapkan”. Pengarang memohon pada tuhannya agar selalu diberi semangat, petunjuk, dan kehidupan.
            Selain puisi Nikmat Hidup, kaitannya dengan tuhan, S. Takdir Alisjahbana juga menuliskan sebuah puisi yang berjudul menyambut hidup. Puisi tersebut bersikian rasa syukur yang di panjatkan kepada tuhan. Berbeda dengan puisi yang sebelumnya yaitu Nikmat Hidup. Nikmat hidup menggambarakan kehidupan sebagai sebuah derita namun dalam puisi yang berjudul menyambut hidup karya S. Takdir Alisjahbana tersebut menggambarkan kebahagiaan hidup karena limpahan anugerah yang diberikan oleh tuhan. Rasa syukur tersebut bahkan oleh S. Takdir Alisjahbana diungkapkan dalam tiga bait dari lima bait puisinya.
            Tak kalah dengan S. takdir Alisjahbana, Chairil Anwar dan Amir hamzah juga menulis puisi yang ada hubungannya dengan tuhan. Amir Hamzah menulis puisi yang berjudul Doa dan Chairil dengan puisinya yang juga berjudul Doa.
            Dari beberapa puisi yang ada dalam kumpulan puisi oleh Mao Chin. Ternyata ketiga sastrawan tersebut dalam berkarya tak lepas kaitannya dengan unsure religi. Terbukti di beberapa puisi mereka tertulis ungkapan-ungkapan sapaan kepada tuhannya.

Jalan Hati Jalan Samudera
MAWAR DAN NENEK TUA
Karya: D. Zawawi Imron
Nenek, nenek ronta
Ia punya jambangan
Dan mawar yang gemetar

Ia tanam mawar itu
Buat anaknya yang mengembara
Sejak kecil mula
Hanyalah anak satu-satunya
Tempat menyerahkan hari tua
Lemah dan nyawa
Sampai kini ditunggunya
Tak kunjung datang
Lagi ditunggunya
Tapi tak kunjung pulang

Ketika seorang malaikat
Menghampirinya
Untuk menyerahkannya kepada bumi
Masih disiramnya mawar itu
Dengan air matanya

            Puisi di atas menceritakan gambaran kasih saying seorang ibu kepada anaknya. Anak yang diharapkan dapat mengabdi di hari tuanya malah tak kunjung datang. Kasih saying nenk tersebut terwujud atau disimbolkan dengan ditanamnya sebuah mawar untuk anaknaya. Tersirat bahwa sampai meninggalpun anaknya tak kunjung datang. Hingga apa yang ditanamnya atau kasih sayangnya masih terjaga sampai ia mati.
            Dalam puisi tersebut diibaratkan anaknya sedang mengembar jauh entah kemana, hingga tak kunjung pulang. Rasa menunggu tetap selalu ada di jiawa nenek tersebut. Namun apa daya. Walaupun ditunggu sampai kapanpun anaknya tak kunjung datang. Kata “mengembara” dalam puisi tersebut bisa dijabarkan dalam pengertian yang lebih luas. Bisa saja anaknya mengembara pada kontesk yang sebenarnya dan bisa saja anaknya memang sudah tiada atau pergi. Kepergian anaknya bisa diasumsikan pada beberapa hal. Bisa mungkin anaknya pergi karena sudah tidak cocok dengan ibunya. Hal itu karena sebuah pertengkaran hebat. Sehingga ayah dan ibunya bercerai dan anaknya ikut dengan ayahnya. Hal seperti sangat sering terjadi pada masa sekarang atau zaman dahulu. Tidak hanya pihak anak yang dirugikan akibat sebuah pertengakaran yang berujung pada sebuah perceraian. Namun, orang tua juga dirugikan dengan hal ini. Resiko terbesa adalah tekanan batin orang tua yang rindu akan anaknya.
            Penafsiran lain yang mungkin muncul yaitu, seorang anak yang memang durhaka kepada orangtuanya. Banyak anak yang lupa kepada orang tuanya setelah ia menikah. Dia sulit untuk meluangkan waktu kepada orang tuanya. Bahkan tidak setiap setahun sekali ia mengunjungi orang tuanya. Kejadian seperti ini banyak terjadi pada masa sekarang. Seorang anak yang sudah menikah sering merasa sudah bisa hidup sendiri dan mempunyai urusan sendiri tanpa menghiraukan orang tuanya.
            Dari segi kebahasaan, dalam puisi tersebut terdapat bahasa kias. Seperti pada bait ketiga yang berbunyi “Ketika seorang malaikat”. Aku liris melukiskan malaikat disimilerkan dengan manusia. Sebuah bentuk penyederhanaan sosok penjabut nyawa. Malaikat yang seharusnya mempunyuai karakter seram, pada puisi tersebut hanya digambarkan dalam sosok manusia. Hal ini menunjukan aku liris ingin memeberi doktrin bahawa sebuah kematian merupakan hal yang biasa dan lumrah. Pertemuan seorang hamba kepada malaikat  digambarkan sebagai pertemuan seorang manusia dengan manusia lainnya.
            Dari segi rima puisi tersebut berima tidak teratur. Hal itu terlihat pada akhir setiap larik yang bebas. Dapat dilihat di bawah ini
Nenek, nenek ronta
Ia punya jambangan
Dan mawar yang gemetar

Ia tanam mawar itu
Buat anaknya yang mengembara
Sejak kecil mula
Hanyalah anak satu-satunya
Tempat menyerahkan hari tua
Lemah dan nyawa
Sampai kini ditunggunya
Tak kunjung datang
Lagi ditunggunya
Tapi tak kunjung pulang

Ketika seorang malaikat
Menghampirinya
Untuk menyerahkannya kepada bumi
Masih disiramnya mawar itu
Dengan air matanya
            Pada bait ke satu, ketiga larik sama sekali tidak sama. Begitu pula pada bait ketiga. Namun pada bait kedua terdapa akhiran vocal a mulai larik ke-2 sampai larik ke-8. Sarana retorika juga hadir dalam bait ke ketiga. Bunyi lariknya sebagai berikut:
Untuk menyerahkannya kepada bumi
Masih disiramnya mawar itu
            Dari segi tema puisi tersebut bertemakan social. Ketika seorang ibu pada kondisi social tertentu, ia merindukan kehadiran seorang sosok yang telah di tunggunya sekian lama.

Alusi
AKU ENTAH
Karya: Priyadi AS
Kalaukah aku udara pastilah aku sudah
Menjadi nafas kehidupanmu. Tapi aku
Cuma entah, yang berusaha memilih
Dan memilih mana-mana saja cara
Yang bisa kuguna untuk sekadar
Mencintaimu
            Puisi pendek di atas menceritakan sebuah kepasrahan diri aku liris tentang dirinya. Puisi yang terdiri atas satu bait tersebut mengindikasikan subuah karakter yang fleksibel dari pengarangnya. Dari segi perasaan dalam puisi. Pengarang ingin menunjukan betaba rela berkorbannya dirinya. Ia mau melakukan atau memilikh apa saja asalkan dia yang dicintainya bisa ia cintai. Sosok yang ia dambakan tersebut bisa diprediksi adalah kekasihnya. Ia merasa dirinya bukan apa-apa. Ia menganggap dirinya sebagai entah yang tiada berisi apa-apa.entah yang terus menerus mencari demi kebahagaiaan sosok yang dicintainya.
            Ia berkhayal, apabila ia dapat menjadi udara, ia akan akan meberi nafas. Namun pada larik ketiga, Aku liris merasa dia bukan apa-apa yang bisa menuruti atau menjelma seperti yang diinginkan sosok yang dicintainya.
            Amanat yang tersaji pada puisi tersbut menggambarkan bahwa seseorang rela berkorban kepeda sosok yang dicintainya. Berusaha dan berusaha terus demi kebahagiaan sosok yang dicintainya.
Dan memilih mana-mana saja cara
Yang bisa kuguna untuk sekadar
Mencintaimu
            Seseorang harus mempunyai pilihan apa saja agar dapat membahagiakan seseorang tersebut. Pemilihan tersebut harus dibarengi dengan sebuah pengorbanan. Tentunya rasa keikhlasan haru juga melekat pada seseorang.

Kata Hati
Karya: Rifa’I Ali
TURUN KE LAUT
Di bawah gubalan perada warna
Tinggi-rendah laut mengalun
Di tepi langit kabar dan sayup
Tampak biduk ayahku punya
Dalam ayunan gelombang berpalun
Mencari nafkah tambatan hidup

Kalau hari hampirkan pagi
Kokok ayam sudah pelahan
Terdengarlah jala di bahu berdesir
Itulah masa ayahku pergi
Murai ucapkan selamat jalan,
Aku tegak tercenung di pasir.

            Puisi di atas menceritakan tentan sebuah pengaduan seorang anak tatkala ayahnya pergi melaut. Pada bait kesatu terdapat larik-lari yang sukarr dipahami.
Di bawah gubalan perada warna
Tinggi-rendah laut mengalun
Di tepi langit kabar dan sayup
Tampak biduk ayahku punya
Dalam ayunan gelombang berpalun
Mencari nafkah tambatan hidup
            Larik kesatu terdapat sebuah kata yang sulit diterjemahkan oleh orang awam yaitu Perada warna. Perada warna adalah sebuah metafora untuk menggambarkan keindahan langit atau pun laut yang dicetakan oleh aku liris. Begitu indah warna tersebut bagaikan emas yang berkilauan. Emas yang seharusnya begitu indah harus mengiringi kepergian seorang ayah yang tentunya menjadi sebuah kegelisahan bagi orang yang ditingalkannya. Kepergian sang ayah terpaksa direlakan oleh aku liris karena kepergiaanya memang bertujuan baik yaitu untuk mencari nafkah demi berlangsungnya kehidupan sebuah keluarga.
            Digambarkan susasana lautan yang mengalun tinggi rendah bagai rambut yang tersipu oleh angin. Banyak sekali penggamaran setting dalam puisi tersebut. Larik satu sampai lima jelas menggambarkan seting pada suasana yang dicertikan di dalam pusisi tersebut.
Di bawah gubalan perada warna
Dapat diartikan suasana seting laut dibawah indahnya langit bagai kilauan emas.
Tinggi-rendah laut mengalun
Suasana ombak yang mengalun naik turun akibat terpaan angin.
Di tepi langit kabar dan sayup
Disebuah tepi langit atau ujung yang jauh dari suatu tempat.
Tampak biduk ayahku punya
Digambarkan terlihat sebuah biduk milik ayah aku liris.
Dalam ayunan gelombang berpalun
Diulang kembali suasana ombak di laut.
            Pada bait kedua yang berbunyi:
Kalau hari hampirkan pagi
Kokok ayam sudah pelahan
Terdengarlah jala di bahu berdesir
Itulah masa ayahku pergi
Murai ucapkan selamat jalan,
Aku tegak tercenung di pasir.
            Aku liris harus rela melepas kepergian ayahnya setiap pagi. Ia hanya besa tercenung atau termenung dengan pasir pantai yang bersamanya mengantarkan ayahnya pergi melaut. Setiap pagi kehidupan yang udik harus selalu dijalaninya tanpa harus ebrhenti. Melepas kepergian ayahnya untuk bekerja sebenarnya merupakan hal yang berat bagi aku liris. Namun hakekat seorang kepala keluarga harus seperti itu adanya. Mencari nafkah demi kehidupan keluarga.





Celurit Emas
Karya: D. Zawawi Imron
BEBAN
Di bawah pikulan yang kaku itu
Adalah pundakku
Sejarah berjalan ke saujana
Dengan lagu berduri

Sebelum orang  sempat bertanya
Apa tak sebaiknya
Kuminum dulu air ketenteraman
Yang membayang pada kacamata,
Pengembara buta bertongkat itu
            Puisi tersbut menceritakan sebuah tanggungjawab yang harus dipikul oleh aku liris. Sebuah perjalan yang seharusnya dapat dibuat menjadi indah malah bagai duri yang menhantam. Aku liris sudah menanggung sebuah beban malah harus dihdapkan pada rute penderitaan. Duri pada puisi di atas dapat diibaratkan sebagai sebuah cobaan yang harus dipikul oleh setiap individu.
Di bawah pikulan yang kaku itu
Adalah pundakku
Sejarah berjalan ke saujana
Dengan lagu berduri
Bait di atas menggambarkan bahwa sebuah kehidupan penuh dengan cobaan yang bertubu-tubi. Belum selesai sebuah masalah, masalah yang lain datang. Itulah mengapa banyak orang zaman sekarang yang mudah putus asa dan bahkan tidak kuat menjalani kehidupan yang sebenarnya sangat sementara ini. Namun bisa juga bait di atas hanya gurauan belakan. Aku liris hanya bernostalgia dengan masa lalunya yang penuh dengan penderitaan. Hal itu terbukti dengan kata “sejarah ke saujana”.
Pada bait kesatu tersbut juga terdapat majas personifikasi yaitu kata sejarah yang digambarkan mampu berjalan ke saujana. Sementara pada konteks filsafat, sejarah hanyalah memori masa lampau yang tidak seharusnya mempu menonjolkan dirinya.
Tema yang dapat diambil dari puisi tersebut adalah social. Hal itu dapat dilihat dari hadirnya kata tenteram pada bait kedua. Temteram mengindikasikan sebuah hal yang dimiliki secara social atau global. Semua orang menginginkan ketenteraman. Begitu juga dengan aku liris.
Sebelum orang  sempat bertanya
Apa tak sebaiknya
Kuminum dulu air ketenteraman
Yang membayang pada kacamata,
Pengembara buta bertongkat itu

Kepak Sayap Jiwa
Oleh: Budhi Setyawan
SISI LAIN
Orang-orang menyemur
Di atas mimpi
Menggelar nafsu
Nyalakan api birahi
Di sisi riuh rendah
Tangis jelata yang
Belum juga memetik nasi
Dengan menggendong
Derita yang tak henti
            Puisi tersebut menceritakan tentang penderitaan rakyat jelata dan kaum priyayi atau orang kaya. Disisi lain orang kaya hanya enak-enakkan. Hal tersebut dapat dijelaskan dari tiap larik pada bait tersebut.
Larik pertama
Orang-orang menyemur
            Larik tersebut digambarkan bahwa orang kaya tidak akan kekurangan makan. Semur adalah sebuah masakan yang dapat dianggap enak yang belum tentu orang awam dapat menikmatinya. Semur dapat berupa daging, ayam dll. Inilah perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin. Sekarang banyak pejabat yang berfoya-foya, sedangkan rakyatnya masih kelaparan dan sulit untuk mendapatkan sesuap nasi. Mereka harus rela barcengkrama dengan tempat sampah untuk mengais sisa-sisa sampah yang mungkin dapat dimakan.
Di atas mimpi
Menggelar nafsu
            Apa yang dipikarkan mereka hanyalah nafsu. Nafsu untuk mendapakan segalanya. Segala kekuasaan, kekayaan, dan juga tahta. Mereka hidup untuk mencari dan terus mencari. Merasa kurang dan kurang. Tidak mensyukuri apa yang telah didapat. Apa yang menjadi keinginan selalu ingin dituruti. Inilah yang mengakibatkan Negara kita banyak pejabat yang korupsi.
Nyalakan api birahi
            Selain hal di atas. Banyak sekali kalangan orang kaya yang hanya mengumbar nafsunya. Mereka sudah tidak lagi menjaga norma-norma agama. Kumbul kebo sudaah menjadi hal yang biasa dan dihalalkan. Mereka golongan orang kaya sudah tidak peduli dengan dosa. Kenikmtan yang mereka dapat mereka anggap sebagai konsekuensi sebagai orang kaya. Hal ini yang mungkin menyebabkan Negara kita banyak terjadi bencana. Karena dosa orang sedikit yang lain juga merasakan azabnya.
Di sisi riuh rendah
Tangis jelata yang
Belum juga memetik nasi
Dengan menggendong
Derita yang tak henti
            Di sisi lain ada golongan orang-orang jelata yang hidupnya jauh dari berbeda dengan orang-orang kaya. Mereka digambarka hidup dalam tangis. Kata tangis menginsikasikan sebuah kesedihan yang sering dialami oleh orang-orang jelata. Mereka tidak dapat setiap hari makan nasi. Mereka harus bersikeras untuk hidup. Disamping itu mereka harus berjuang untuk menjalani derita cobaan yang tidak hanya akibat perbuatan mereka namun, mereka juga harus menanggung dosa orang-orang kaya.










Malam Taman Sari
Karya: Suminto A. Sayuti
PERAHU WAKTU
Mereka masuk ke sepasang-sepasang
Dan engkau pun tahu tapi bisu dalam kebingungan
Mereka ikat tali-tali di buritan
Engkau pun alpa dalam keabadian
Langit yang bergolak
Mencoba mengekalkan segalanya
Hingga muncul wajah lain
Yang kau nanti
Lumpur berbatas mata kaki
Adalah kesetiaanmu bersamadi

            Puisi tersebut dari segi estetis kurang mencolok. Bait yang seharus tersusun rapi harus tanpa jeda antara larik. Sehinggga mengakibatkan puisi tersebut hanya terdiri atas satu bait. Dari segi rima pada lari kesatu samapai kelima sangat beraturan. Larik kesatu berimakan bunyi ang, sama dengan larik kedua. Pada larik ketiga berimakan bunyi an, sama dengan larik keempat.
            Judul yang diangkat adalah perahu waktu. Dapat dijelaskan sisi daya tarik dari puisi tersebut. Perahu adalah sebuah benda yang terbiasa mengarungi samudera. Disini perahu berkombinasi dengan kata waktu yang menandakan sebuah perjalanan yang penuh dengan asa dan penantian. Di dalam puisi tersebut digambarkan para awak kapal yang sedang melakukan aktifitasnya. Disisi lain ada dari mereka yang mengikat tali-tali kapal, dan apa yang mereka kerjakan sama seperti orang-orang lain yang sedang menjalani kehidupan. Mereka harus mengarungi waktu. Dalam puisi ini digambarkan bahwa untuk mengarungi waktu dibutuhkan sebuah alat agar tidak tenggelam di lautan. Itulah sebuah similer antara perjalanan hidup dengan perjalan berlayar seorang awak kapal.
            Pada larik terakhir dituliskan “Adalah kesetiaanmu bersamadi” disitu dikatan sebuah kata yaitu kesetiaan. Kesetiaan menggambarkan sebuah pengabdian, sebuah konsistensi dan juga komitmen yang harus dipegang secara terus menerus tanpa ada henti sampai apa yang dijalani dapat berhasil. Disitu juga dituliskan kata samadi yang berarti sebuah keprihatinan yang untuk menuju kesuksesan. Dan hal tersebtu perlu waktu yang harus ditempuh sebagai proses.

Perempuan bersayap
Mila Duchlun
BILA AKU HAMIL
Lahirlah kau anakku
Ibu ini sudah menunggu
Hanya hati dan kau yang menunggu
Hanya hati dan kau yang tahu
Bahwa rasa ini semegah istana surga
Yang dijaga para peri

Bila kau bernyawa Adam
Bantu ibu untuk mengirimkan kabar
Ke setiap hati para perempuan
Bahwa cintamu seketat hatimu berkobar

Bila kau bertubuh hawa
Bantu ibu untuk selalu menjaga
Benih cinta suci dan martabat menawar
Yang ada di dalam dada
Ah, itu indah anakku seindah payu daramu
            Puisi di atas menceritakan sebuah perasaan seorang wanita yang sedang hamil. Dia sudah menunggu kelahiran anak kesayangannya. Kelahiran buah hati yang sangat diimpikan oleh stiap wanita. Aku liris seperti ingin mengungkapkan kegelisahannya kepada anaknya baru dikandung.
            Doa-doa dan harapan pun muncul dari aku liris. Dia ingin dan berharap kelak anaknya kelak ketika dewasa bisa menjaga dirinya. Menjaga diri dari aib yang kini sering menodai para remaja. Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
Bila kau bertubuh hawa
Bantu ibu untuk selalu menjaga
Benih cinta suci dan martabat menawar
            Di sini dikatakan martabat menwar. Dapat dijelaskan bahwa ibu atau aku liris ingin anaknya tetap menjaga martabat keluarga. Meskipun ia harus menjadi pujaan banyak orang. Pada bait kedua pun aku liris masih ingin berbagi rasa dengan perempuan-perempuan lain tentang apa yang sedang dirasakannya. Apa yang sedang dialaminya ingin berbagi dengan sesama.
            Di puisi tersebut juga mengandung perbandingan atau simile yaitu bila kau bertubuh hawa. Hal ini menunjukkan bahwa puisi tersebut mengandung estetika yang lebih. Dari persyartan sebuah puisi yaitu segi estetika, puisi tersbut sudah layak untuk disebut puisi yang indah.

Catatan Seorang Pejalan Dari Hadrami
Reffry J.Alkatiri
MENCARI PELANGI
Seorang anak ingin mencari pelangi
Seperti yang pernah dilihatnya
Pada buku bergambar

Lama dicari jejaknya
Dalam langit yang membungkam
Dan arus angin salahku menghindar

Setelah dewasa
Baru disadari bahwa
Pelangi yang dicarinya itu
Sudah lama terkurang dalam bias kabut
            Puisi tersebut mencertikan seorang anak yang mencari jati dirinya. Dalam perjalanan waktu ia akhirnya menemukan jadi dirinya yang sebenarnaya telah ada terkurung di dalam dirinya. Pencarian itu digambarkan dengan pencarian seorang anak terhadap pelangi. Dia tahu akan pelangi dari sekemata yang ia peroleh. Manusia sebenarnya sudah bisa mencari jati dirinya sendiri. Dari peristiwa-peristiwa yang dialami, seseorang akan dihadapkan pada pencermaran karakternya masing-masing.
Setelah dewasa
Baru disadari bahwa
Pelangi yang dicarinya itu
Sudah lama terkurang dalam bias kabut
            Penggalan abait di atas menunjukkan bahwa seseorang akan sadar dan tahu akan apa yang dicarinya setelah ia dewasa. Segala yang ia ingin tahu akan terungkap dengan pikiran kritis seorang yang sudah dewasa. Disitu pula digambarkan aku liris anak tersebut baru mengetahui kalau pelangi itu sebenarnya terkurung dalam bias kabut pada waktu dewasa. Ahal ini menunjukan bahwa kedewasaan merupakan aspek utama kematangan seseorang dalam mengilhami segala informasi yang ia dapatkan.
Lama dicari jejaknya
Dalam langit yang membungkam
            Sekali lagi segala sesuatu itu memerlukan proses, dan proses tersbut ada yang membutuhkan waktu yang lama dan juga ada yang secara cepat. Kematangan proses dapat berbanding lurus dengan waktu yang relatif lama. Sebab semakin lama seseorang belajar maka hasil yang ia dapatkan juga semakin matang.

Ular dan Kabut
Karya: Ajip Rosidi
DENGAN KATA
Dengan kata kuketuk pintu hatimu: Aku cinta!
Dengan kata kuartikan ta’bir mimpi: betapa nyata!
Dengan kata kususun bangunan dunia : rapi terperinci!
Dengan kata kuikatkan nasibku dengan tali-insani! Silaturahmi!
Dan dengan kata kurenungkan makna kesepian abadi.

Dengan kata kau ciptakan semesta alam : Kun!
Dengan kata kutunjukan jalan mereka yang mau mengerti:
            Ya ayuhalladzina amanu!
Dengan kata kausadarkan mereka yang lupa : ya ayuhannas!
Dengan kata kauperingatkan mereka yang sesat: Awas!
Dah dengan kata kaujanjikan segala nikmat: Nun!
           
Puisi tersebut dari ssegi tipografi sangat menarik. Pada awal setiap larik terdapat sebuah kata yang sama yaitu dengan. Bahkan setiap larik diawali dengan sebuah huruf ayang sama yaitu “D”. Selain itu pada kata yang muncul kedua setiap lari sering muncul kata “kata”. Ditambah lagi setiap akhir larik sering terdapat tanda baca seri “!”. Dapat dipahami bahwa pusisi tersebut bersifat menyeru kepada pembaca. Seruan-seruan tersebut hampir setiap larik muncul, hal tersebut dapat dilihat dibawah ini.
Dengan kata kuketuk pintu hatimu: Aku cinta!
Dengan kata kuartikan ta’bir mimpi: betapa nyata!
Dengan kata kususun bangunan dunia : rapi terperinci!
Dengan kata kuikatkan nasibku dengan tali-insani! Silaturahmi!
Dan dengan kata kurenungkan makna kesepian abadi.

Dengan kata kau ciptakan semesta alam : Kun!
Dengan kata kutunjukan jalan mereka yang mau mengerti:
            Ya ayuhalladzina amanu!
Dengan kata kausadarkan mereka yang lupa : ya ayuhannas!
Dengan kata kauperingatkan mereka yang sesat: Awas!
Dah dengan kata kaujanjikan segala nikmat: Nun!
Puisi tersebut memiliki peran ganda. Selain sajaknya yang indah, dari segi bentuk puisi tersbut sangat indah. Peran ganda tersebut merupakan salah satu kelebihan dari puisi tersebut. Jadi pembaca tidak hanya terhibur dengan kata-katanya yang indah namun juga dari segi tipogarfi menjadi pemandangan tersendiri untuk dilihat.

Kelenjar Laut
Karya: Zawawi Imron
ORANG ITU
Setiap makan roti orang itu selalu
                                    Makan roti bakar
Setiap makan nasi orang itu selalu
                                    Makan nasi goreng
Setiap mau pergi orang itu selalu
                                    Mampir dulu ke sebuah sumur
Untuk bercermin melihat senyumnya sendiri
                                    Yang terasa bukan miliknya lagi
            Puisi tersebut menceritakan tentang seseorang. Aku liris mengamati orang lain. Apa yang ia jalankan dan apa yang ia lakukan. Tak begitu ada kesan tersurat dari puisi tersebut. Larik-larik yang tersaji begitu lugas tersampaikan. Tak ada kesan yang menggambarkan sebuah misteri untuk pembaca sedikit mengungkap apa yang tertulis dalam sajak. Sajak tersebut sebenarnya mungkin mengandung arti yang dalam, naman sulit sekali untuk mengartikan sajak sajak tersebut.
            Dalam bait tersebut ada sebuah kata yang diulang-ulang yaitu selalu. Kata tersebut berguna untuk memperjelas hal yang ingin disampaikan oleh pengarang. Hal tersebut juga menggambarkan sebuah hal yang udik dilakukan oleh seseorang.
            Namun pada akhir bait dituliskan bahwa senyum yang ia lihat bukanlah senyumnya sendiri. Hal ini menunjukan sebuah ketidak percaya dirian pada seorang individu tersbut. Seseuatu yang tidak berinovatif lama akan berujung pada sebuah ketidakyakinan.
            Amanat yang dapat diambil dari puisi tersbut adalah bahwa kita harus selalu berinovatif. Jangan terus menerus memplagiatkan sesuatu.
Perjalanan Petang
Karya: Slamet Sukirnanto
SELAT SUNDA
Aku tinggalkan dermaga
Kau lepas genggaman tangan
Membawa serta secercah luka
Angan-angan memasuki laut menganga!
            Tema yang lahir dari puisi tersebut serasa sudah biasa kita ketahui. Tema sebuah perpisahan dengan seseorang ataupun sebuah tempat. Yang paling menonjol dari puisi ini adalah perpisahan seseorang dengan seseorang. Dengan perpisahan tersebut menghasilkan sebuah luka mendalam bagi aku liris. Dan di saat dia sudah beranjak pergi pikirannya masih berada pada tempat yang ditinggalkannya.

Buku Tamu Musim Perjuangan
Karya: Taufik Ismail
KARANGAN BUNGA
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salembah
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam dari karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kaka yang ditembak mati
Siang tadi
Analisis intrinsik
Tema
Tema yang dapat diamnil dari puisi di atas adalah kepahlawanan. Sedangakan rimanya bebas. Dari segi diksi mempunyai kata denotasi (lugas) mudah dipahami. Citraan yang dipakai pada bait pertama adalah citraan penglihatan. Majas / Gaya Bahasa yang terdapat pada puisi di atas adalah majas simbolik
“ini dari kami bertiga”
“pita hitam dari karangan bunga”
Analisis ekstrinsik
a. Latar Belakang
Penyair memberikan atau mengingatkan kepada kita semua tentang perjuangan-perjuangan kita yang relah berkorban mempertahankan negara kita.
b. Amanat/ Pesan
Hendaklah kita selalu mengingat atau mengenang atas jasa pahlawan yang relah berkorban untuk negara.
c. Tujuan
Untuk mengingatkan kita kembali atau mengulang para pahlawan yang telah gugur.n Puisi di atas terdiri dari dua bait. Bait pertama terdiri dari empat larik dan bait kedua terdiri dari lima larik dan puisinya merupakan.kisah tentang perjuangan warga negara sampai akhirnya meninggal demi memperjuangkan haknya

O Amuk Kapak

Karya: Sutardji Calzhoum Bakri

Tragedi Winka & Sihka

kawin
        kawin
                kawin
                        kawin
                                kawin
                                        kawin
                                     ka
                                win
                             ka
                        win
                     ka
                win
             ka
        win
     ka
       winka
                winka
                        winka
                                sihka
                                       sihka
                                              sihka
                                                     sih
                                                  ka
                                              sih
                                           ka
                                       sih
                                    ka
                                sih
                             ka
                         sih
                      ka
                         sih
                            sih
                               sih
                                  sih
                                     sih
                                        sih
                                           ka
                                              Ku
Ketika seorang penikmat puisi membaca puisi tersebut, hal pertama yang akan terlihat adalah keunikan bentuk atau tipografinya. Sutardji membuat puisi dengan cara menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat dinikmati secara visual. Tipogarfi yang unik ini dapat menarik perhatian pembaca meskipun pembaca belum mengetahui isi dari sajak-sajak yang tersaji.
            Tipografi sajak dalam puisi karya Sutardji tersebut berdasarkan konteks strukturnya dapat diberi makna (salah satu makna) sebagai pengalaman hidup yang tidak menyenangkan. Di situ Digambarkan sebagai susunan huruf, tulisan, yang berbentuk zigzag, berbelok-belok tajam sebagai jalan berliku yang membahayakan.
Puisi Sutarji yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka” bertuliskan dua kata yang diulang-ulang yaitu sihka dan winka. Jika kedua kata tersebut dibalik maka menjadi kasih dan kawin. Dua kata tersebut merujuk pada penciptaan seorang manusia. Manusia tercipta dari dua orang yang saling berkasih dan berlajut pada sebuah perkawinan.
Dalam puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya, di samping melalui kata-kata. Sajak dalam puisi Sutardji yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka” tersebut hanya terdiri dua kata “kawin dan kasih” yang dipotong-potong menjadi suku kata-suku kata. Pada awalnya kata kawin masih penuh, artinya masih penuh, memberi konotasi begitu indahnya perkawinan. Orang yang hendak kawin mesti berangan-angan yang indah bahwa sesudah kawin akan hidup berbahagia, ada suami atau istri dan kemudian akan ada anak, hidup akan bahagia dengan kasih sayang anak, istri-suami. Tetapi, melalui perjalanan waktu kata kawin terpotong menjadi ka dan win, artinya tidak penuh lagi. Angan-angan perkawinan yang semula indah, ternyata kenyataan setelah kawin berubah. Dalam perkawinan orang harus memberi nafkah, ada kewajiban-kewajiban. Ada anak yang harus dibiayai, bahkan sering terjadi pertengkaran suami-istri, harus membiayai makan, pakaian dan sekolah anak-anak. Ternyata perkawinan itu tidak seperti yang diharapkan, yang penuh dengan kebahagiaan, segala berjalan lancar, namun semua penuh kesukaran.
Bentuk fisik atau tipografi puisi di atas dibuat sedemikian rupa untuk memunculkan kesan visual dan estetik yang juga turut membangun makna puisi. Tipografi yang berbentuk zigzag menyiratkan adanya tragedi. Sebuah tragedi dalam bahtera perkawinan atau rumah tangga, yakni suatu kegelisahan dalam perkawinan yang mengakibatkan perjalanan rumah tangga tidak mulus lagi.  Pembalikkan /kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/ mengandung makna bahwa rumah tangga yang diselimuti rasa cinta dan kasih sayang telah berubah menjadi suatu kebencian. /kawin/ pada awal puisi berjumlah lima buah, hal ini menyiratkan pada periode atau waktu yang telah ditempuh, yaitu lima tahun.
Pada periode berikutnya (pada baris ke-6) /kawin/ terpotong menjadi /ka/ dan /win/ yang menunjukkan bahwa kebahagiaan itu terpotong-potong dan terjadi perpecahan antara suami dan istri yang mungkin disebabkan oleh materi, ketidakpercayaan, ketidakpengertian dan lain-lain. Pada baris ke-7, /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa rasa cinta dan kasih sayang berjalan mundur, dari hari ke hari semakin mengecil. Pada baris ke-15, /kawin/ telah berubah menjadi /winka/  yang berarti perbedaan atau perselisihan dalam rumah tangga telah terjadi dan sulit untuk disatukan, sehingga /kasih/ menjadi /sihka/ yang berarti kasih sayang telah beubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22 /kasih/ itu berjalan mundur sampai akhirnya tinggal /sih/ yang maksudnya rasa kasih itu benar-benar sugah lenyap. Pada akhir puisi, penyair mengungkapkan bahwa semua itu (rumah tangga) menjadi kaku dan mati, tidak ada lagi yang dapat disatukan. /Ku/ dimulai dengan huruf  kapital untuk menunjukkan bahwa penyair berpaling kepada Tuhan, yaitu menyerahkan permasalahan rumah tangga
kepadaNya dan lebih mendekatkan atau meleburkan diri pada Tuhan.
Dari hal di atas diketahui bahwa respon dari masing-masing pembaca dalam membaca sebuah puisi berbeda-beda. Perbedaan tersebut berbanding lurus dengan kecerdesan mereka dalam dunia sastra. Seorang pembaca awam akan puas dengan hanya melihat tipogarfi uniknya. Hal tersebut berbeda dengan pembaca dengan kemahiran yang lebih lanjut. Pembaca dengan kemahiran yang lebih akan menikmati puisi Sutarji tersebut dari berbagai sisi. Implikasinya seorang pembaca yang memahami isi puisi tersebut, ia akan mengerti akan arti sebuah kehidupan. Kehidupan yang dijalani tidak akan selamanya lurus dan mulus. Respon lebih lanjut dari seorang pembaca awam, ia mungkin akan menciptakan puisi-puisi yang bertipogarfi mirip dengan puisi Sutarji tersebut. Atau mungkin mereka akan masuk
dalam dunia puisi kontemporer.


0 Response to "ANALISIS PUISI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel