CONTOH PUISI
Tema : Religi
Sempurna
Lengkap engaku memberi kami nikmat
Dengan semua kesempurnaan yang melekat
Namun mengapa kami sering tak ingat
Dalam keseharian yang kuperbuat
Mungkinkah
nikmat juga berarti cobaan
Lantas
di mana batas nikmat dan cobaan
Apakah
semua itu perihal agar kami bersyukur
Ataukah
memang sebuah gambaran bagi keistimewaan umatmu
Ku berharap semua ini tak membuatku
gelap
Untuk selalu mengingat dan menyembahmu
Karena kutahu
Sangatlah mudah engakau mengambil semua
ini
Salahkah Mereka
Ya tuhan salah mereka orang-orang kafir
Yang terlahir dari keluarga kafir
Mereka tidak tahu Islam
Bermula tak berkehendak mereka belajar
agama lain
Orang
tua dan semua yang ada di sekitar sama
Mereka
tidak pernah mengenalkan Islam
Lantas
dari mana seorang bayi tahu Islam
Jika
segala apa yang ada di depannya tak menunjukkan keIslaman
Engkau maha mengetahui
Mungkin engkau memiliki hukum
tersendiri terhadap mereka
Kuatkanlah kami yang sudah engkau pilih
berada di jalanmu
Sebab kami makhluk yang sering lalai
dan takabur
Dimana Dia
Sudah kuketahui bahwa Engkau telah
menciptakan pasangan untuk kami
Seorang kaum Hawa yang solehah harapan
kami
Yang selalu menyebut namamu di setiap
waktu
Dan taat kepadaku yang Engkau beri hak
untuk memimpin
Ya
Tuhan!
Jika
boleh aku meminta
Aku
ingin mengenal dan dekat dengannya sebelum engkau mengikat kami
Pertemukanlah
kami, agar kebahagiaan kami lebih panjang
Dan
mejadikan besarnya rasa syukur kami kepadamu
Namun jika memang belum saatnya
Kami ingin engkau melancarkan jalannya
Menjadikan pribadinya yang sabar
Dan tegar menungguku
Nafas Terakhirku
Tak tau kapan ini akan berakhir
Aku selalu takut ketika aku lalai
denganmu
Ketakutan akan esok yang tak dapat
kujumpai lagi
Dalam tidur yang tak pernah menyangka
selamanya
Di
saat engkau mengambil nyawaku
Dan
tak seorang pun dapat menghalangi
Bahkan
untuk di undur sejengkal waktu
Semoga
nafas terakhirku selalu memuji namamu
Lancarkanlah lidahku ketika diriku menghadapi
ajal
Lancarkanlah untuk menyebut namamu.
Terlalu Besar
Ku sadari semua yang kulalui
Dan semua dosa yang telah kuperbuat
Aku takkan bisa melupakan dosa-dosa
besarku
Dalam menjalani kehidupan yang telah
lalu
Mungkin
gunung tak sepadan dengan dosaku
Lautan
pun tak mampu menampung
Daratan
ini telah penuh dengan dosaku
Akankah
engkau memberi ampun
Tak ada yang lebih mulia daripada
Engkau
Karena Engkau maha pamaaf bagi umatmu
Dosa ini akan sangat berat kelak
Semoga di dunia ini aku tak lelah untuk
memohon ampun kepadamu
Cobaan
Apakah memang benar Engkau memberi
kenikmatan kepada orang-orang yang ingkar kepadamu
Karena mereka orang kafir lebih enak
hidupnya dari kami orang-orang Islam
Ataukah rasa ini hanya ungkapan
ketidaksyukuran kami kepadamu.
Atau mungkin memang benar engkau
membalas kebajikan kami dengan syurga
Sebab
ketika aku ingkar darimu semua urusanku lancer
Ketika
aku rajin dengan kebajikan beberapa coabaan dating
Mungkin
ketika aku kembali ke jalanmu
Aku
harus mengikuti aturanmu dan hukummu
Mungkinkah
cobaan memang sebuah tanda kasih sayangmu
Karena
aku yakin dengan cobaan ada hikmah di dalamnya
Dengan
cobaan mungkin kami akan lebih dekat denganmu
Dengan
cobaan mungkin kami akan terhindar dari bencana
Hanya Engkau yang tahu akan semua
sekenario kehidupan ini
Tema : Alam
Jernih
Mereka
telah berkata berulang kali
Mereka
telah berteriak sampai sesak
Sampai
habis kesabaran mereka memberi hukuman
Namun
sayang tak ada satupun yang mendengar
Mereka hanya ingin bersahabat
Mereka ingin hidup berdampingan
Sampai mereka rela menjadi objek
kerusakan
Namun sayang tak ada satupun yang
mengulurkan tangan
Alam
tak mengharap banyak permintaan
Alam
tak pernah mencari keuntungan
Kapan
pikiran manusia akan sadar dengan derita alam
Kapan
pikiran manusia akan jernih, sejernih keindahan alam
Kehidupan yang
Tergenang
Semilir
kedamaian tak tak kan hadir tatkala banjir bergulir
Kusir
tak lagi berkarier, karena jalan tergenang air
Angkutan
masal akan parkir meratapi takdir
Sebuah
kenyataan derita yang seharusnya tak membuat mungkir
Api yang menyebabkan asap tak mudah
untuk dipahami
Semua orang tak mengaku menciptakan
sebab
Tanpa sadar mereka melempar benih
derita
Tubuh menjadi raksasa bencana
Bak
jarum di tengah jerami pemeduli
Karena
arogansi brutal yang terlahir dari sikap gusar
Kini sampailah melihat kenyataan
Balita harapan bangsa yang terserang
penyakit
Saudara-saudara kita bertengger
untuk menyingkir
Anak-anak kita tak bisa untuk
ber-asa
Semua kini menanti sentuhan
pertolongan
Membara
Tak
satu pun yang menyangka apa penyebab bianglala
Saat
mata terlelap dengan cepat kobaran itu melahap
Tak
satupun terlewat untuk melenyap
Teriakan
keras yang sempat terucap
Setelah semua hampir binasa
Sirine datang memberi pertolongan
Terus berjuang menyelamatkan apa
yang tersisa
Terasa lambat emosi meluap
Jeri
payah sekian lama kini telah punah
Receh
yang menggunung tak sempat terusung
Nyawa
sekelompok orang hampir melayang
Mungkin
esok tempat ini akan menjadi gersang
Tak Pernah
Berhenti
Tubuh
bercampur lumpur terlentang nyaris terkubur
Tak
hanya satu saat itu bahkan beribu
Di
sini dan di situ menegang membujur kaku
Memperlihatkan
tanda bahwa alam telah berbicara
Tak bermaksud untuk terlena,
guncangan sekejap datang
Tak segan merobohkan keangkuhan yang
membentang
Dalam asa mereka berkata
Mengapa derita tak ujung jua
Masih
terengah-engah nafas ini
Bencana
berkedip menyapu semua yang ada
Tanpa
tahu dari mana ia datang
Tanpa
tahu siapa yang ia tuju
Mungkin
dengan ini jiwa yang lama segera pergi
Yang
masih di sini diharapkan menjadi pengganti
Kuasamu
Tembok
yang kuat itu hancur oleh debu
Pepohonan
yang berdiri kekar terbakar dengan panasnya
Langit
indah berubah gelap dengan pekatnya
Suara
bahagia terganti dengan gemuruh gaduh
Tak kan selamanya memberi bahagia
Ia perlu sesaat mengeluarkan isinya
Semburan mencekam memerah di
kejauhan
Kini kita sadar dengan kemurkaan
tuhan
Mungkin
lusa akan terasa
Syukur
yang sering terlupa
khilaf
yang sering terucap dan
Tuhan
yang terlalaikan
Bencana Hitam
Tak
hanya alam yang memberi peringatan
Kesengsaraan
dapat datang dari mereka yang berkuasa
Kemiskinan
menjadi bencana hebat yang menahun
Tak manusia setengah dewa
Meskipun mereka yang berkuasa
Meskipun mereka yang terlihat mulia
Mereka hanyalah manusia
Jika
alam sudah memperingatkan dengan bencana
Kini
manusia saling memperingatkan dengan membencana
Tema: pendidikan
Ampuhnya Rupiah
Tak
hanya manusia yang dapat berkuasa
Rupiah
pun dengan leluasa menjadi raja
Raja
yang dengan leluasa mebagi kasta-kasta
Raja
bak syetan yang menjadikan manusia syetan
Seorang jeniuspun akan dihadang
Orang idiotpun dapat dibuat leluasa
Begitu kuat kekuasaannya
Yang menjadi rebutan dalam setiap
kerumunan
Tak
sampai di sini
Rupiah
menjadi tambang dalam pemerolehan pendidikan
Siapa
yang punya uang bisa terus jalan
Siapa
yang miskin uang akan termakan
Tak Penting
Pendidikan
Apakah
itu penting
Apakah
dengan pendidikan bisa mendatangkan uang
Apakah
dengan pendidikan nyawa tak akan melayang
Nyatanya pendidikan tinggi
melahirkan koruptor yang merajai
Nyatanya pendidikan dijadikan lahan
kemunafikan
Nyatanya mereka yang tak
berpendidikan tinggi bisa menjadi presiden
Tapi
yang membuatku senang
Dengan
pendidikan aku jadi tahu bahwa pendidikan itu tidak penting
Agenda Tahunan
Agenda
tahunan para siswa
Teraniyaya
pada kenyataan yang cepat datang
Panik
dalam ancaman ketakutan
Yang
sebenarnya jejak kekuatan
Apakah salah ujian terhadap kekuatan
Mengapa ini menjadi ketakutan abadi
Mereka yang salah atau memang
perencanaan yang tak matang
Mau
tak mau hanya ada dua keputusan yaitu lulus dan tidak lulus
Tak
seroang pun mengharapkan datangnya mega kelabu
Semua
berharap langit cerah akan tiba
Tak Seharusnya
Mereka Mengiba
Salah
siapa mereka saling membunuh
Kebrutalan
yang menjadi pemandangan perkotaan
Kerusakan
akibat anarkisme pengangguran
Pendidikankah
penyebab semua ini
Jika sejak dini mereka dididik
Paling tidak mereka mempunyai
keahlian
Namun mereka tak terlihat
Anak-anak yang mengamen dan meminta
Mereka yang seharusnya mengenyam
pendidikan
Harus menjadi korban kebutaan
kekayaan
Pendidkan Korupsi
Jangan
heran apabila korupsi menjadi-jadi
Karena,
itulah yang diajarkan
Entah
sejak kapan budaya tersbut mendarah daging
Mungkin
dari nenek moyang yang terus membayang
Adakah guru yang pintar berbasa-basi
Mengajarkan tanpa berujung anak
didiknya korupsi
Mingkin di Indonesia ada pendidikan
korupsi
Mulai dari yang ringan hingga kelas
kakap
Jika diungkap semua akan gagap
Dewa-dewa
lebih suka berpesta
Menyogok
semua bangsa manusia
Apakah
kecerdasan ini tanpa pendidikan
Tentu
tidak!
Intrik
Sebenarnya
kemana rupiah itu mengalir
Program
yang terdengar besar nyatanya masih banyak siswa terlantar
Mereka
harus rela menjadi korban sekolah mereka
Yang
roboh akibat orang-orang gila
Dunia pendidikan penuh dengan intrik
Lari sana lari sini tak ada yang
peduli
Janji renovasi tak kunjung ditepati
Malah melahirkan pemandangan yang
semakin ngeri
Tema:
Sosial
Raksasa Bertopeng
Raut
wajah mengiba menatap kota tua
Tangan-tangan
membuka, akulah sang peminta
Kapankah
kau akan datang memberi pertolongan
Kepada
kami tuan penghuni perempatan
Walau hidup adalah permainan bak
panggung hiburan
Tapi kami tak mau menjadi peran
figuran
Sebagai bukti janji yang telah lama
dinanti
Kami ingin jalan keluar dari
kenistaan ini
Kita
hidup sering terancam tak ada jaminan keamanan
Terombang
ambing sini sana termakan kata-kata berbisa
Sudahilah
kicau beo suaramu yang menebar janji
Jangan
selamanya kau bersembunyi dibalik topeng sakti
Ulurkan
tanganmu wahai pemimpin negeri ini
Raksasa-raksasa
Gila
Banyak pengacara berjaya tertawa bangga
Tekak
tekuk hukum dengan leluasa
Yang
hitam dijadikan putih yang putih begitu pula
Sesuka
hati dilindungi bapak tertinggi
Demokrasi palsu menjadikan negeri
ini lucu
Semua sudah dalam sekenario besar
Dirancang oleh antek-antek otoriter
berkedok pengikut paham demokrasi
Gigih menjadikan hukum mudah
dipermainkan
Kalau
sudah begini apanya yang mau diadili
Yang
bersalah gila harta,
Pengacaranya
gila berbicara,
Hakimnya
gila keadilan,
Pemimpinya
gila kuasa,
Berlindung
pada bapak yang mungkin juga gila
Semua
berobat pada dokter yang ternyata juga gila
Raksasa yang
Melarat
Manusia
indonesia dilahirkan untuk menderita
Memikul
hutang-hutang sekawan binatang
Menjadikan
bayi-bayi mungil masuk lubang
Tak
terkecuali mereka yang ada di sabang
Perekonomian yang penuh dengan lumut
kebosanan
Membelenggu
angan sekuat rotan
Tak ada jalan menembus rintangan
Karena negeri ini sudah disesatkan
syetan
Siapa
yang harus angkat bicara
Apakah
penguasa yang berlagak tak tahu apa-apa
Nasib
rakyat kecil digedor traktor
Dengan
pelor pembela diteror
Rakasasa Bodoh
Gali
lubang tutup lubang
Falsafah
hidup masyarakat Indonesia sekarang
Menjadikan
prinsip moralitas kian terhempas
Karena
kehidupan yang tak pernah puas
Pasak ini sudah tak kuat melawan
tiang
Berharap ladang intan seluas lautan
Apalah artinya pendidikan jika
menciptakan orang-orang rongsokan
Tak memperbaiki perekonomian malah
membuat karatan
Tanpa
diminta hasil pun tiba
Orang
bodoh mencopet dompet
Orang
pintar menjadi koruptor besar
Orang
beriman sibuk meributkan pedoman
Suara Hatiku
Kicau
camar mengingatkanku pada senyummu
Alunan
gitarmu tak henti mengusik rinduku
Terik
mentari mengajakmu menyapaku
Dengan
kedatanganmu dipagi itu
Aku tak kenal gerangan namamu
Suara merdu kupanggil namamu
Masihkah
engkau datang besok pagi
Untuk
bernyanyi di tengah kami
Walau
engkau hanya penyanyi jalanan
Tapi
telah membuatku berangan-angan
Tertipu Malam
Kusangka
mereka bukanlah nona
Kusangka
putih berbisik lirih
Kusangka gaun menari anggun
Kusangka
ibu memanggil aku
Ku menatap gelap bak jaring-jaring
rapat
Di gang sepi di balik ramainya kota
Berjajar sadar terpancar senyum
gusar
Dari bibir merah kebohongan
terpancar
Sadarkah
salah mengambil langkah
Kau
menjelma acuhkan nama menjual jasa
Kusangka
lengan ternyata tangan
Kusangka
gurun ternyata katun
Kusangka
mereka bukanlah nona
Kusangka
pria tetapi wanita
Berkelahi
mencari jati diri
Jendela Orang Pinggiran
Jeruji
itu terlalu kuat untuk kau patahkan
Memenjarakan
kesempatan dan harapan
Memenggal
indahnya cita-cita dan impian
Menyembunyikan
pandangan mata dari gemerlap dunia
Dari sebuah tempat
Engkau mengintip kebahagiaan dan
menerawang kesedihan
Dari jendelamu kau lihat bukit
berlian
Dari jendela itu
Engkau terpenjara dalam sangkar baja
Asa yang Terbelenggu
Bukan tak ada jalan untuk melangkah
Lihatlah
kesempatan seluas lautan
Negeri
bak samudera intan
Terpenjara
dalam bejana kemiskinan
Tak inginkanh untuk lepas bebas
Dari jerat erat yang begitu berat
Bukan tandus bak pedang terhunus
Yang
menjadikan negeri ini terasa mampus
Namun koruptor berteman tikus
Yang seharusnya dibuang ke kakus
Masih
banyak ladang terlihat hilang
Karena
pemikiran yang tek cemerlang
Sadar
untuk tak menggelepar
Dengan
hati sabar dan tanpa gusar
0 Response to "CONTOH PUISI"
Posting Komentar