" WARNARANO "

Ing Ngarsa Sung Tuladha

CONTOH PUISI


Contoh Puisi
oleh: Zen Firdaus Arizal

Tema : Religi
Sempurna
Lengkap engaku memberi kami nikmat
Dengan semua kesempurnaan yang melekat
Namun mengapa kami sering tak ingat
Dalam keseharian yang kuperbuat
            Mungkinkah nikmat juga berarti cobaan
            Lantas di mana batas nikmat dan cobaan
            Apakah semua itu perihal agar kami bersyukur
            Ataukah memang sebuah gambaran bagi keistimewaan umatmu
Ku berharap semua ini tak membuatku gelap
Untuk selalu mengingat dan menyembahmu
Karena kutahu
Sangatlah mudah engakau mengambil semua ini

Salahkah Mereka
Ya tuhan salah mereka orang-orang kafir
Yang terlahir dari keluarga kafir
Mereka tidak tahu Islam
Bermula tak berkehendak mereka belajar agama lain
            Orang tua dan semua yang ada di sekitar sama
            Mereka tidak pernah mengenalkan Islam
            Lantas dari mana seorang bayi tahu Islam
            Jika segala apa yang ada di depannya tak menunjukkan keIslaman
Engkau maha mengetahui
Mungkin engkau memiliki hukum tersendiri terhadap mereka
Kuatkanlah kami yang sudah engkau pilih berada di jalanmu
Sebab kami makhluk yang sering lalai dan takabur

Dimana Dia
Sudah kuketahui bahwa Engkau telah menciptakan pasangan untuk kami
Seorang kaum Hawa yang solehah harapan kami
Yang selalu menyebut namamu di setiap waktu
Dan taat kepadaku yang Engkau beri hak untuk memimpin
            Ya Tuhan!
            Jika boleh aku meminta
            Aku ingin mengenal dan dekat dengannya sebelum engkau mengikat kami
            Pertemukanlah kami, agar kebahagiaan kami lebih panjang
            Dan mejadikan besarnya rasa syukur kami kepadamu
Namun jika memang belum saatnya
Kami ingin engkau melancarkan jalannya
Menjadikan pribadinya yang sabar
Dan tegar menungguku

Nafas Terakhirku
Tak tau kapan ini akan berakhir
Aku selalu takut ketika aku lalai denganmu
Ketakutan akan esok yang tak dapat kujumpai lagi
Dalam tidur yang tak pernah menyangka selamanya
            Di saat engkau mengambil nyawaku
            Dan tak seorang pun dapat menghalangi
            Bahkan untuk di undur sejengkal waktu
Semoga nafas terakhirku selalu memuji namamu
Lancarkanlah lidahku ketika diriku menghadapi ajal
Lancarkanlah untuk menyebut namamu.

Terlalu Besar
Ku sadari semua yang kulalui
Dan semua dosa yang telah kuperbuat
Aku takkan bisa melupakan dosa-dosa besarku
Dalam menjalani kehidupan yang telah lalu
            Mungkin gunung tak sepadan dengan dosaku
            Lautan pun tak mampu menampung
            Daratan ini telah penuh dengan dosaku
            Akankah engkau memberi ampun
Tak ada yang lebih mulia daripada Engkau
Karena Engkau maha pamaaf bagi umatmu
Dosa ini akan sangat berat kelak
Semoga di dunia ini aku tak lelah untuk memohon ampun kepadamu

Cobaan
Apakah memang benar Engkau memberi kenikmatan kepada orang-orang yang ingkar kepadamu
Karena mereka orang kafir lebih enak hidupnya dari kami orang-orang Islam
Ataukah rasa ini hanya ungkapan ketidaksyukuran kami kepadamu.
Atau mungkin memang benar engkau membalas kebajikan kami dengan syurga
            Sebab ketika aku ingkar darimu semua urusanku lancer
            Ketika aku rajin dengan kebajikan beberapa coabaan dating
            Mungkin ketika aku kembali ke jalanmu
            Aku harus mengikuti aturanmu dan hukummu
            Mungkinkah cobaan memang sebuah tanda kasih sayangmu
            Karena aku yakin dengan cobaan ada hikmah di dalamnya
            Dengan cobaan mungkin kami akan lebih dekat denganmu
            Dengan cobaan mungkin kami akan terhindar dari bencana
Hanya Engkau yang tahu akan semua sekenario kehidupan ini

Tema : Alam
Jernih
Mereka telah berkata berulang kali
Mereka telah berteriak sampai sesak
Sampai habis kesabaran mereka memberi hukuman
Namun sayang tak ada satupun yang mendengar
            Mereka hanya ingin bersahabat
            Mereka ingin hidup berdampingan
            Sampai mereka rela menjadi objek kerusakan
            Namun sayang tak ada satupun yang mengulurkan tangan
Alam tak mengharap banyak permintaan
Alam tak pernah mencari keuntungan
Kapan pikiran manusia akan sadar dengan derita alam
Kapan pikiran manusia akan jernih, sejernih keindahan alam

Kehidupan yang Tergenang
Semilir kedamaian tak tak kan hadir tatkala banjir bergulir
Kusir tak lagi berkarier, karena jalan tergenang air
Angkutan masal akan parkir meratapi takdir
Sebuah kenyataan derita yang seharusnya tak membuat mungkir
            Api yang menyebabkan asap tak mudah untuk dipahami
            Semua orang tak mengaku menciptakan sebab
            Tanpa sadar mereka melempar benih derita
            Tubuh menjadi raksasa bencana
Bak jarum di tengah jerami pemeduli
Karena arogansi brutal yang terlahir dari sikap gusar
            Kini sampailah melihat kenyataan
            Balita harapan bangsa yang terserang penyakit
            Saudara-saudara kita bertengger untuk menyingkir
            Anak-anak kita tak bisa untuk ber-asa
            Semua kini menanti sentuhan pertolongan
Membara
Tak satu pun yang menyangka apa penyebab bianglala
Saat mata terlelap dengan cepat kobaran itu melahap
Tak satupun terlewat untuk melenyap
Teriakan keras yang sempat terucap
Setelah semua hampir binasa
Sirine datang memberi pertolongan
Terus berjuang menyelamatkan apa yang tersisa
Terasa lambat emosi meluap
Jeri payah sekian lama kini telah punah
Receh yang menggunung tak sempat terusung
Nyawa sekelompok orang hampir melayang
Mungkin esok tempat ini akan menjadi gersang

Tak Pernah Berhenti       
Tubuh bercampur lumpur terlentang nyaris terkubur
Tak hanya satu saat itu bahkan beribu
Di sini dan di situ menegang membujur kaku
Memperlihatkan tanda bahwa alam telah berbicara
            Tak bermaksud untuk terlena, guncangan sekejap datang
            Tak segan merobohkan keangkuhan yang membentang
            Dalam asa mereka berkata
            Mengapa derita tak ujung jua
Masih terengah-engah nafas ini
Bencana berkedip menyapu semua yang ada
Tanpa tahu dari mana ia datang
Tanpa tahu siapa yang ia tuju
Mungkin dengan ini jiwa yang lama segera pergi
Yang masih di sini diharapkan menjadi pengganti


Kuasamu
Tembok yang kuat itu hancur oleh debu
Pepohonan yang berdiri kekar terbakar dengan panasnya
Langit indah berubah gelap dengan pekatnya
Suara bahagia terganti dengan gemuruh gaduh
            Tak kan selamanya memberi bahagia
            Ia perlu sesaat mengeluarkan isinya
            Semburan mencekam memerah di kejauhan
            Kini kita sadar dengan kemurkaan tuhan
Mungkin lusa akan terasa
Syukur yang sering terlupa
khilaf yang sering terucap dan
Tuhan yang terlalaikan

Bencana Hitam
Tak hanya alam yang memberi peringatan
Kesengsaraan dapat datang dari mereka yang berkuasa
Kemiskinan menjadi bencana hebat yang menahun
Tak manusia setengah dewa
Meskipun mereka yang berkuasa
Meskipun mereka yang terlihat mulia
Mereka hanyalah manusia
Jika alam sudah memperingatkan dengan bencana
Kini manusia saling memperingatkan dengan membencana

Tema: pendidikan
Ampuhnya Rupiah
Tak hanya manusia yang dapat berkuasa
Rupiah pun dengan leluasa menjadi raja
Raja yang dengan leluasa mebagi kasta-kasta
Raja bak syetan yang menjadikan manusia syetan
            Seorang jeniuspun akan dihadang
            Orang idiotpun dapat dibuat leluasa
Begitu kuat kekuasaannya
            Yang menjadi rebutan dalam setiap kerumunan
Tak sampai di sini
Rupiah menjadi tambang dalam pemerolehan pendidikan
Siapa yang punya uang bisa terus jalan
Siapa yang miskin uang akan termakan

Tak Penting
Pendidikan
Apakah itu penting
Apakah dengan pendidikan bisa mendatangkan uang
Apakah dengan pendidikan nyawa tak akan melayang
            Nyatanya pendidikan tinggi melahirkan koruptor yang merajai
            Nyatanya pendidikan dijadikan lahan kemunafikan
            Nyatanya mereka yang tak berpendidikan tinggi bisa menjadi presiden
Tapi yang membuatku senang
Dengan pendidikan aku jadi tahu bahwa pendidikan itu tidak penting

Agenda Tahunan
Agenda tahunan para siswa
Teraniyaya pada kenyataan yang cepat datang
Panik dalam ancaman ketakutan
Yang sebenarnya jejak kekuatan
            Apakah salah ujian terhadap kekuatan
            Mengapa ini menjadi ketakutan abadi
            Mereka yang salah atau memang perencanaan yang tak matang
Mau tak mau hanya ada dua keputusan yaitu lulus dan tidak lulus
Tak seroang pun mengharapkan datangnya mega kelabu
Semua berharap langit cerah akan tiba

Tak Seharusnya Mereka Mengiba
Salah siapa mereka saling membunuh
Kebrutalan yang menjadi pemandangan perkotaan
Kerusakan akibat anarkisme pengangguran
Pendidikankah penyebab semua ini
            Jika sejak dini mereka dididik
            Paling tidak mereka mempunyai keahlian
            Namun mereka tak terlihat
            Anak-anak yang mengamen dan meminta
            Mereka yang seharusnya mengenyam pendidikan
            Harus menjadi korban kebutaan kekayaan

Pendidkan Korupsi
Jangan heran apabila korupsi menjadi-jadi
Karena, itulah yang diajarkan
Entah sejak kapan budaya tersbut mendarah daging
Mungkin dari nenek moyang yang terus membayang
            Adakah guru yang pintar berbasa-basi
            Mengajarkan tanpa berujung anak didiknya korupsi
            Mingkin di Indonesia ada pendidikan korupsi
            Mulai dari yang ringan hingga kelas kakap
            Jika diungkap semua akan gagap
Dewa-dewa lebih suka berpesta
Menyogok semua bangsa manusia
Apakah kecerdasan ini tanpa pendidikan
Tentu tidak!

Intrik
Sebenarnya kemana rupiah itu mengalir
Program yang terdengar besar nyatanya masih banyak siswa terlantar
Mereka harus rela menjadi korban sekolah mereka
Yang roboh akibat orang-orang gila
            Dunia pendidikan penuh dengan intrik
            Lari sana lari sini tak ada yang peduli
            Janji renovasi tak kunjung ditepati
            Malah melahirkan pemandangan yang semakin ngeri

Tema: Sosial
Raksasa Bertopeng
Raut wajah mengiba menatap kota tua
Tangan-tangan membuka, akulah sang peminta
Kapankah kau akan datang memberi pertolongan
Kepada kami tuan penghuni perempatan
            Walau hidup adalah permainan bak panggung hiburan
            Tapi kami tak mau menjadi peran figuran
Sebagai bukti janji yang telah lama dinanti
Kami ingin jalan keluar dari kenistaan ini
Kita hidup sering terancam tak ada jaminan keamanan
Terombang ambing sini sana termakan kata-kata berbisa
Sudahilah kicau beo suaramu yang menebar janji
Jangan selamanya kau bersembunyi dibalik topeng sakti
Ulurkan tanganmu wahai pemimpin negeri ini

Raksasa-raksasa Gila
Banyak pengacara berjaya tertawa bangga
Tekak tekuk hukum dengan leluasa
Yang hitam dijadikan putih yang putih begitu pula
Sesuka hati dilindungi bapak tertinggi
Demokrasi palsu menjadikan negeri ini lucu
Semua sudah dalam sekenario besar
Dirancang oleh antek-antek otoriter berkedok pengikut paham demokrasi
Gigih menjadikan hukum mudah dipermainkan
Kalau sudah begini apanya yang mau diadili
Yang bersalah gila harta,
Pengacaranya gila berbicara,
Hakimnya gila keadilan,
Pemimpinya gila kuasa,
Berlindung pada bapak yang mungkin juga gila
Semua berobat pada dokter yang ternyata juga gila

Raksasa yang Melarat
Manusia indonesia dilahirkan untuk menderita
Memikul hutang-hutang sekawan binatang
Menjadikan bayi-bayi mungil masuk lubang
Tak terkecuali mereka yang ada di sabang
            Perekonomian yang penuh dengan lumut kebosanan
            Membelenggu angan sekuat rotan
            Tak ada jalan menembus rintangan
            Karena negeri ini sudah disesatkan syetan
Siapa yang harus angkat bicara
Apakah penguasa yang berlagak tak tahu apa-apa
Nasib rakyat kecil digedor traktor
Dengan pelor pembela diteror

Rakasasa Bodoh
Gali lubang tutup lubang
Falsafah hidup masyarakat Indonesia sekarang
Menjadikan prinsip moralitas kian terhempas
Karena kehidupan yang tak pernah puas
            Pasak ini sudah tak kuat melawan tiang
            Berharap ladang intan seluas lautan
            Apalah artinya pendidikan jika menciptakan orang-orang rongsokan
            Tak memperbaiki perekonomian malah membuat karatan
Tanpa diminta hasil pun tiba
Orang bodoh mencopet dompet
Orang pintar menjadi koruptor besar
Orang beriman sibuk meributkan pedoman


Suara Hatiku
Kicau camar mengingatkanku pada senyummu
Alunan gitarmu tak henti mengusik rinduku
Terik mentari mengajakmu menyapaku
Dengan kedatanganmu dipagi itu
            Aku tak kenal gerangan namamu
            Suara merdu kupanggil namamu
Masihkah engkau datang besok pagi
Untuk bernyanyi di tengah kami
Walau engkau hanya penyanyi jalanan
Tapi telah membuatku berangan-angan

Tertipu Malam
Kusangka mereka bukanlah nona
Kusangka putih berbisik lirih
Kusangka  gaun menari anggun
Kusangka ibu memanggil aku
            Ku menatap gelap bak jaring-jaring rapat
            Di gang sepi di balik ramainya kota
            Berjajar sadar terpancar senyum gusar
            Dari bibir merah kebohongan terpancar
Sadarkah salah mengambil langkah
Kau menjelma acuhkan nama menjual jasa
Kusangka lengan ternyata tangan
Kusangka gurun ternyata katun
Kusangka mereka bukanlah nona
Kusangka pria tetapi wanita
Berkelahi mencari jati diri
Jendela Orang Pinggiran
Jeruji itu terlalu kuat untuk kau patahkan
Memenjarakan kesempatan dan harapan
Memenggal indahnya cita-cita dan impian
Menyembunyikan pandangan mata dari gemerlap dunia
            Dari sebuah tempat
            Engkau mengintip kebahagiaan dan menerawang kesedihan
            Dari jendelamu kau lihat bukit berlian
            Dari jendela itu
            Engkau terpenjara dalam sangkar baja

Asa yang Terbelenggu
Bukan  tak ada jalan untuk melangkah
Lihatlah kesempatan seluas lautan
Negeri bak samudera intan
Terpenjara dalam bejana kemiskinan
            Tak inginkanh untuk lepas bebas
            Dari jerat erat yang begitu berat
            Bukan tandus bak pedang terhunus
Yang menjadikan negeri ini terasa mampus
            Namun koruptor berteman tikus
            Yang seharusnya dibuang ke kakus
Masih banyak ladang terlihat hilang
Karena pemikiran yang tek cemerlang
Sadar untuk tak menggelepar
Dengan hati sabar dan tanpa gusar




0 Response to "CONTOH PUISI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel