" WARNARANO "

Ing Ngarsa Sung Tuladha

Prolog Coretan Asa

Koloni semut berceloteh dalam sarasehan malam itu. Dinginnya angin tak sebanding dengan harapan yang telah membeku. Mereka terus begadang sembari mendengar sedu sedan saudaranya. Secangkir kopi pahit bak penenang di antara valium yang digenggam mereka. Mungkin mereka tak sadar hanya menjadi pion-pion dalam bangsa Hymenoptera.
Ratu semut tentunya mempunyai pilihan dalam hidupnya. Ia dapat mengambil pilihan itu atau melepasnya. Di saat harus memilih ia bertanggung jawab atas tindakannya. Sebaliknya, sikap pasif bukan berarti ia melepas pilihan melainkan memilih untuk tidak mengambil pilihan. Bukan berarti juga ia terlepas dari resiko-resiko yang lebih buruk. Pilihan-pilihan tersebut tentunya sebuah perjalanan panjang untuk meraih mimpi. Haruskah ia kembali tidur untuk meneruskan mimpi atau bangun untuk mewujudkan mimpi?
Semut tetaplah semut yang semakin tak tampak karena muramnya sang raja malam. Semilir angin bercengkrama di atas danau yang tersipu malu dengan ombak kecilnya. Suka cita ilalang berdansa di bawah hamparan langit hitam. Redup lentera mengawasi para semut dari sela-sela cemara di bukit mungil itu. Sesekali mereka berteriak saling menggoda, hanyut dalam kelelahan yang menderu. Pabila selaksa waktu telah menjemput, semut-semut hanya bisa tertidur beralas dingin yang tak mampu lagi merobek kulit.

0 Response to "Prolog Coretan Asa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel