Bangkit dari Sengatan Provokasi
Oleh: Zen Firdaus Arizal
Bhinneka
tunggal ika tan hana dharma merupakan sebuah semboyan yang telah ada di dalam
benak kita. Apakah semboyan tersebut memang benar-benar ada di benak kita, atau
hanya sebuah cita-cita yang telah diimpikan oleh
nenek moyanga? Memang di era tahun 45 darah lebih kenthal dari pada air.
Cita-cita yang sama untuk merdeka membuat masyarakat indonesia bersatu menuju
kemerdekaan. Di era sekarang semboyan tersebut hanya melekat dengan jangka
waktu sejengkal. Setelah masa kanak-kanak usai, bhinneka tunggal ika hanya
sebagai wacana belaka. Kedewasaan yang seharusnya tetap bertumpu pada ideologi
dasar berubah menjadi kedewasaan tanpa arah. Ideologi kini menjadi sebuah komoditi
yang dapat ekspor keluar negeri.
Apabila seorang penulis diminta untuk menulis tentang negeri
ini, maka ia akan menulis judul napak
tilas negara kesatuan republik Indonesia. Persatuan yang menjadi cita-cita
nenek moyang kini telah menfosil. Betapa menyedihkan, ketika anak-anak negeri
ini melihat berita di televisi, yang nampak tidak jauh dari densus delapan-delapan,
demonstrasi, sampai sandiwara perang antara KPK dengan kepolisian. Apakah kita
harus bertanya tentang masa depan negeri ini kepada Jaya Baya yang sudah mati
bertahun-tahun. Andai saja ada Jaya Baya yang lahir kembali di Indonesia,
mungkin ia akan mengatakan bahwa Indonesia akan bersatu jika para dewa-dewa
yang suka berpesta sambil nyogok bangsa manusia itu telah tiada.
Tidak hanya pandai meramal, Jaya Baya milenium juga cerdas
dalam menulis. Mungkin di era sekarang ia akan menulis sebuah cerita perjalanan
presiden kita dengan presiden negara lain. Ketika berada di atas sebuah negara
terlihat para tentara bertubuh tegap dengan persenjataan yang lengkap berlatih
militer. Presiden Amerika berkata “Inilah negara saya yang adidaya.” Beberapa
saat kemudian presiden jepang berkata “Kita sekarang sudah berada di atas
Jepang.” “Kok bisa?” tanya presiden Indonesia. “Ya jelas, lihatlah itu di
bawah, berjuta industri modern yang saya punya.” Presiden kita tidak tinggal
diam “Nah sekarang kita berada di atas Jakarta.” “Loh kok bisa?” tanya semua
presiden. “La ini sepatu saya sudah hilang buat lempar-lemparan orang-orang di
gedung megah itu.” Sungguh ironis jika sepatu pemimpin kita dijadikan
persenjataan para wakil rakyat yang sedang adu jotos.
Pondasi dasar yang rapuh akan membuat sebuah bangunan rapuh
pula. Inilah yang terjadi di negeri tercinta ini. Perseteruan yang kini
menjamur, menjadi best cover koran negara lain. Tidakkah malu jika negeri ini
menjadi bahan tertawaan negara lain. Konflik-konflik vertikal maupun horizontal
menjadi virus yang bersifat paralel memicu disintregasi bangsa. Apabila semua
sudah tidak dapat terbendung, maka gerakan brutal merebak dan sekali lagi
menjadi tontonan yang asik.
Pemicu-pemicu perpecahan datang dari berbabagi arah. Jika
rakyat telah tidak ada pilihan maka pemicu akan dengan mudah menyengat. Adanya
kata-kata berbisa sampai mulut-mulut berbusa menebarkan janji-janji belaka,
membuat rakyat Indonesia terkesima. Sampai tiba waktunya janji tersebut
ditagih, mereka tak dapat memenuhi. Masyarakat pun hanya menganggap para
pemimpin yang telah berjanji seperti burung beo yang pandai mengoceh. Kepercayaan
rakyat yang sebelumnya kuat menjadi hilang dan siap menagih hutang yang telah
dijanjikan entah dengan cara halus maupun brutal. Ending dari anekdok ini
adalah keharmonisan pemimpin dan rakyatnya yang hancur.
Bagai lebah yang menyengat begitu sedap. Di negeri ini semua
saja bisa terjadi. Untuk mendapatkan sebuah keadilan dapat dengan cara membeli
sehingga yang hitam bisa menjadi putih dan sebaliknya. Sesungguhnya ini bukan
hal yang baru, namun sudah menahun. Bagaimana tidak rapuh keadilan di negeri
ini. Suap-menyup yang sebelumnya di bawah meja kini telah di atas meja. Hal
yang wajar jika rakyat geram dengan tingkah laku aparat negara. Lagi-lagi
inilah yang menjadi pembicu konflik. Bukan salah rakyat jika bertindak kontra
terhadap pemerintahan. Akibatnya main hakim sendiri merupakan jalan terbaik
untuk menyelsaikan masalah. Rakyat kecil yang hanya mendengar desas usus
membuat para pemimpin sakit usus. Rakyat yang mudah terprovokasi menjadi pelor
yang siap meneror. Hal tersebut telah berjalan bermusim-musim. Hingga kini
musim buah-buahan menjadi topik utama yang laris dibicarakan. Kualisi-kualisi
orang-orang berduit membangun partai beraneka. Layaknya buah-buahan
partai-partai tersebut beraneka rasa. Ada yang benar-benar manis, ada yang
berakhir masam. Rakyat pun tidak mau tertipu lagi, karena memang sama seperti
buah-buahan yang keliahatannya kulitnya hijau ternyata dalamnya merah.
Benar adanya jika ada asap pasti ada api. Bolehlah
masing-masing individu memiliki pemikiran yang berbeda, namun janganlah hal
tersebut menjadi api perpecahan. Janganlah memancing di air keruh. Biarlah
negara ini berkembang tanpa provokasi ke arah distruktif. Karena provokasi akan
sangat mudah masuk dengan pikiran yang kosong masyarakat Indonesia. Perlu
digaris bawahi bahwa mereka yang mempunyai keinginan pribadi akan menghalalkan
segala cara. Sekali lagi masyarakat kecil yang mudah terpancing menjadi korban.
Mereka yang tidak tahu bahwa dunia politik penuh dengan intrik akan mudah
sekali untuk terprovokasi.
Maka sangatlah wajar jika terjadi pertikaian antar suku yang
menewaskan banyak korban. Mereka yang memiliki kepentingan pribadi akan
berusaha mewujudkan keinginannya, seperti halnya papua dan aceh yang
menginginkan merdeka. Mengenai aksi tipu mereka para orang-orang yang berkuasa
ahlinya. Apa jadinya jika lembaga negara yang berwenang seperti KPK tidak bisa
berbuat apa-apa. Seperti halnya banyak jendral polisi yang lolos dari kasus
korupsi.
Negara kita
adalah negara kesatuan yang mencita-citakan persatuan seluruh perbedaan yang
ada. Cita-cita tersebut telah dirintis oleh nenek moyang rakyat indonesa sejak
dulu kala. Perlu diingat bahwa selamanya bandit kelas teri maupun kelas coro
tak akan pernah berhenti untuk mengusik NKRI. Biarlah bandit-bandit kelas coro
kini masih menggonggong bertikai meperebutkan kekuasaan. Bandit-bandit kelas teri kini telah siap untuk
sedikit demi sedikit mengambil apa yang kita punya. Tari reog yang telah
menjadi korban akan menjadi lahan besar untuk memicu perpecahan antar bangsa.
Selektif dalam menerima pengaruh dan tidak mudah terprovokasi merupakan pondasi
yang kuat untuk mempertahankan kesatuan negara ini.
0 Response to "Bangkit dari Sengatan Provokasi"
Posting Komentar