SENYUM ATAU TANGIS
Oleh: Zen Firdaus Arizal
Tak terasa waktu
sudah pagi. Jam sudah tepat menunjukkan pukul satu. Bersandar wajah-wajah penuh
cemas pada tiang-tiang penyangga teras. Beberapa ada yang tidur di lantai
dengan menggelar tikar. Tak ada yang berani berbicara keras dan tak ada pula
yang benar-benar tidur dengan mata yang penuh terpejam. Di dalam kamar yang
terkotak-kotak, masih terlihat orang-orang yang berbaring menjalani ujian dari
tuhan. Begitu lengkap, tua muda mendapat giliran. Dari luar, celah jendela
kamar memperlihatkan pak tua yang bersusah payah bernafas dengan bantuan tabung
oksigen. Larutan infus menetes menghitung detik waktu yang begitu lama. Di
kamar sebelahnya pintu masih terbuka, sehingga terlihat jelas seorang remaja
yang sedang mengaduh. Bukan tanpa ada sebab rintihan terus terdengar dari kamar
itu. Dua hari yang lalu remaja tersebut menghantam sebuah pick up sehingga
menyebabkan kedua kakinya patah.
Kamar sebelahnya
sudah tidak dapat kuamati. Hanya terlihat tirai hijau menutupi jendela kaca
kamar tersebut. Orang-orang di sekitarku pun tidak bisa benar-benar kulihat
dengan jelas. Entah mengapa hanya bohlam redup yang terpasang di teras ini. Itu
pun dua meter dari tempatku duduk. Namun, aku masih dapat melihat beberapa
orang yang sibuk dengan handphonenya.
Di sini aku
menunggu temanku yang sedang menjalani operasi. Tadi sore ia baru saja
kecelakaan. Sampai keadaan terakhir yang kutahu tangannya patah dan mungkin
mengalami luka dalam yang serius. Namanya Joko sahabat dekatku yang tadi siang
sudah kuperingatkan untuk tidak pulang karena mendung yang menggunung. Aku pun
tak tahu, apakah aku dapat seperti Joko yang tegar jika diriku dalam kedaan
yang sama. Aku tidak sendiri, bersama seorang temanku kami menunggu Joko
melewati masa kritisnya. Di sebelah kananku terdapat bapak-bapak yang duduk bersandar pada teras. Ibu-ibu
sudah tertidur samar di lantai yang beralaskan
tikar. Agak jauh dari tempatku tiga orang bapak masih sibuk dengan hpnya
dan sesaat saling memperlihatkan kecanggihan handphone mereka.
Tepat di depanku
seorang ibu masih belum tertidur. Ia bersandar pada dinding dengan memegang
tasbih. Aku tahu mulutnya masih berkomat-kamit dengan bacaan-bacaanya. Doa-doa
yang mungkin pastinya untuk orang yang sedang terbaring. Hal tersebut
mengingatkanku pada orang tuaku yang sangat menyayangiku. Apakah ibukku juga
berbuat yang sama apabila yang terbaring diriku? Tak lama kemudian bapak-bapak
di sampingku terbangun dan menanyakan waktu kepadaku.
“Jam berapa mas?”
“Pukul satu Pak.”
“Sudah pagi to. Selalu seperti
ini.”
Dengan
permulaan percakapan tersebut akhirnya aku melanjutkan obrolan dengan bapak
tersebut. Ternyata beliau sedang menunggu istri mudanya yang sedang operasi
kelahiran. Bapak tersebut sedikit membagi keluh kesahnya kepadaku. Sebenarnya
suasana seperti ini sudah tidak asing baginya. Beberapa waktu sebelumnya ia
pernah menunggu istri pertamanya melahirkan. Ia selalu mencari tempat yang jauh
dari kamar operasi istrinya. Hanya istri-istri tuanya yang menunggu dekat.
Namun, peristiwa tersebut belum sempurna membuatnya bahagia. Tak lain
masalahnya karena ia menginginkan anak laki-laki yang hingga kini belum pernah
ia dapatkan. Beliau mengaku sudah menikah tiga kali hanya untuk mempunyai anak laki-laki.
Menurut ceritanya yang panjang lebar, kuketahui bahwa dia adalah seorang suami
yang memang bertanggung jawab dan adil. Semua istrinya sudah ia buatkan rumah.
Kebutuhannya semua istri dan anaknya tercukupi. Apakah mungkin itu alasannya
istri-istrinya rela untuk dimadu.
Dari
cerita bapak tersebut pikiranku terbangun. Dalam hatiku muncul
pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab dan entah siapa yang akan bisa
menjawab. Akankah aku adalah seorang anak lelaki yang diharapkan oleh orang
tuaku seperti anak laki-laku yang sedang diharapkan bapak tersebut? Apakah nantinya
jika aku sudah menikah, aku dapat memenuhi nafkah kepada istriku dan setia
kepada istriku seperti bapak tersebut? Atau mungkinkah kelak usiaku yang
semakin akan membuatku serakah untuk memiliki segalnya, termasuh anak dan
poligami? Termenung dengan hati gundah memikirkan badan titipan tuhan ini.
Tak
lama kemudian keluarlah seorang pemuda dari kamar di depanku yang kutahu
terdapat seorang bapak tua dengan bantuan oksigen. Pemuda tersebut tampak
lelah. Matanya sudah memerah dan tak henti menguap. Ia keluar dan langsung
mendekat pada ibu-ibu yang dari tadi belum tertidur memegang tasbih.
“Buk kok gak tidur?”
“Kamu itu lo le yang harusnya
tidur. Katanya kamu besok mau ujian skripsi?”
“Tinggal ujian Buk, gak akan lama.”
“Ya itukan menentukan nasib kamu.
Memang kamu bisa ujian dengan mata merah dan menguap terus.”
“Tetap lulus kok Buk!”
“Terserah kamu le.”
Begitu
hangat suasana anak dan ibu tersebut. Bangganya jika seorang wanita dapat
memiliki anak seperti dia, yang setia ada untuk ibunya dalam keadaan apa pun.
Betapa beratnya lelah yang diemban pemuda tersebut, yang harus menempuh ujian
di saat ayahnya terbaring lemah dab betapa bahagianya bapak tua tersebut yang
memiliki istri dan anak yang selalu setia mendampingi.
Hatiku
mulai berkecamuk kembali. Akankah kelak dapat menyelesaikan skripsiku dalam
keadaan baik? Apakah aku masih bisa tegar disaat cobaan datang padahal aku
harus berjuang demi cita-cita? Apakah kelak aku juga mendapatkan seorang istri
dan anak yang selalu ada untukku hingga akhir masaku. Kini aku teringat pada ayahku yang bekerja
keras untukku. Mencari uang hanya demi kesuksesanku. Aku jadi sadar, belum
sedikitpun aku dapat membalas mereka. Tak pernah ada waktu. Di waktu SMP aku
belum sadar akan perjuangan mereka. Menginjak SMA aku hanya merasa dituntut
untuk bagus dalam akademis dan itu malah merasa medapat kekangan. Kini di waktu
kuliah aku malah sibuk dengan kuliahku dan sedikitpun tak sempat untuk sekadar
hadir di depan mereka dan membuat mereka tersenyum. Aku tak tahu bagaimana aku
dapat membuat mereka berdua terenyum. Seperti rantai kehidupan yang tak pernah
putus. Mungkin ketika sudah menikah aku tak dapat untuk menyisihkan waktu
untuknya. Lalu kapankah waktu tersebut? Waktu diriku dapat berbakti dan membuat
mereka tersenyum?
Beberapa
saat kemudian tiba-tiba terdengar tangisan histeris dari luar kamar ICU.
Teriakan-teriakan disertai tangisan membuat pasang mata terbangun. Hal yang
wajar terjadi di sebuah rumah sakit. Mungkin ada yang sudah dipanggil yang maha
kuasa, dan ternyata benar. Salah seorang pasien di rumah sakit ini telah
meninggal. Terlihat ibu-ibu menangis histeris dan beberapa perempuan yang
mungkin anaknya berusaha menenangkan. Dua lelaki disampingnya hanya bisa
memegang kepala dengan tetesan airmata beku. Tak hanya tangisan yang kudengar,
ratapan kata-kata hutang yang banyak, dan keluahan tentang masa depan anak-anak
terdengar ditelingaku.
Akankah
hatiku berkecamuk kembali? Memang terulang kembali. Aku memang seseorang yang
selalu merasa tidak yakin dan penuh dengan pertanyaan. Akhirnya batin ini
meronta kembali. Akankah kelak aku mati dengan meninggalkan anak istri yang
belum ikhlas dengan kepergianku? Akankah kelak aku akan mati dengan hutang yang
banyak, ataukah dengan kedamaian dan masa kehidupan anak-anakku yang sudah
mapan? Akankah kelak ketika aku mati, aku sudah memiliki bekal amal yang
banyak? Ataukah aku akan mati dengan dosa yang melimpah? Setiap saat aku berdoa
agar diri ini memiliki bekal amal yang melimpah disaat tuhan memanggil. Kutahu
bekal bukanlah mobil-mobil mewah yang mengkilap di parkiran depan, bukan istri
yang banyak dan anak yang membanggakan, bukan kesombongan atas prestasi
perguruan tinggi, namun harta yang bermanfaat, anak yang berbakti, dan ilmu
bijak yang terus ditularkan.
Kini
sudah pukul tiga. Salah seorang dokter keluar dan meminta keluarga joko untuk
mencarikan darah. Disini hanya ada paman dan bibi joko. Ibunya masih dalam
perjalanan pulang dari luar kota. Kuketahui ibu joko adalah seorang pelayan
warung yang ada di luar kota. Tentang ayahnya, ia selalu mengalihkan pembicaraan
ketika membahasnya. Tak ada yang menyangka, sungguh disayangkan persediaan
darah yang sesuai dengan golongan darah joko ternyata habis di PMI terdekat.
Kami harus keluar kota untuk mendapatkan darah tersebut. Akhirnya aku dan
temanku harus pergi keluar kota untuk mendapatkan darah joko.
Di
tengah perjalanan, suasana sepi terus menghinggap. Tak ada seorang pun yang
keluar. Hanya kabut pekat yang menjadi saksi kepedihan yang terjadi sejak siang
tadi. Tak hanya joko yang menjadi korban. Di jalan ini ada 4 kejadian
kecelakaan. Kabar yang sampai di telingaku menyebutkan ada tiga korban tewas. Sebenarnya
siang tadi hujan tidak terlalu deras, namun mendung memang sangat pekat. Jalan
sepanjang 16 km yang memakan korban ini, juga dalam keadaan baik. Tak ada
liku-liku tajam dan juga kerusakan jalan. Entah apa yang membuat
kecelakaan-kecelakaan itu terjadi. Kata orang, memang sudah waktunya jalan ini
meminta korban.
Akhirnya
aku sampai di PMI luar kota. Tak semudah itu, kami harus menunggu selama satu
jam untuk pemrosesan darah. Rasa kantuk yang tak menahan mengadu domba
kesabaranku. Hingga salah satu petugas menegur kami untuk sabar. Setelah satu
jam setengah akhirnya kami mendapatkan darah Joko dan kembali ke rumah sakit.
Menjelang
subuh, kulihat Joko keluar dari ruang operasi menuju ICU. Walaupun matanya
terlelap, kutahu ada senyum yang memancar kelak dari wajahnya. Ada keceriaan,
prestasi dan loyalitas sahabat. Kini aku tahu, cahaya pasti akan datang
menyingkirkan kegelapan dan keredupan.
Tersenyumlah
teman! Semoga engkau tak sulit dan tak perlu belajar lagi untuk memberikan
senyuman.
Tersenyumlah
Ayah! Tersenyumlah Ibu! Karena anakmu kini telah sadar dan sedang berjuang
untuk membuatmu tersenyum.
Tersenyumlah kalian! Yang tak terbaring dan tak hanyut dalam
kesombongan untuk menuruti hawa nafsu.
Tersenyumlah Ibu!
Tersenyumlah Ibu! Tersenyumlah ibu!
0 Response to "SENYUM ATAU TANGIS"
Posting Komentar